Terjemahan Kitab Negarakertagama

TERJEMAHAN KITAB  NEGARAKERTAGAMA DALAM BAHASA INDONESIA

TERJEMAHAN KITAB NEGARAKERTAGAMA – Pupuh I 1. Om! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki Pelindung jagat Siwa-Buda Janma-Batara sentiasa tenang tenggelam dalam Samadi Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja dunia Dewa-Batara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.

2. Merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum Wisnawa Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagai Jambala Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.

3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk negara Bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua Tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh nusantara.

4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar Gunung Kampud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari Negara.

5. Itulah tanda bahwa Batara Girinata menjelma bagai raja besar Terbukti, selama bertakhta, seluruh tanah Jawa tunduk menadah p’rintah Wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh II

1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda Seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya Selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda Tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budaloka.

2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung Kembali gembira bersembah bakti semenjak Baginda mendaki takhta Girang ibunda Tribuwana Wijayatunggadewi mengemban takhta Bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.

Pupuh III

1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni Setia mengikuti ajaran Buda, menyekar yang telah mangkat Ayahanda Baginda raja yalah Sri Kertawardana raja Keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian praja.

2. Ayahnya Sri Baginda raja bersemayam di Singasari Bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama Teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara Mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh IV

1. Puteri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan Bertakhta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna Adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana Rani Daha dan rani Jiwana bagai bidadari kembar.

2. Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker Rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana Setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama Sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh V

1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi puteri Wijayarajasa.

2. Dan lagi puteri bungsu Kertawardana Bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara Puteri Sri Narapati Jiwana yang mashur Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh VI

1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana Laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun Bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.

2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang Mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.

3. Bhre Lasem Menurunkan puteri jelita Nagarawardani Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra. 4. Puteri bungsu rani Pajang mem’rintah daerah Pawanuhan Berjuluk Surawardani masih muda indah laksana gambar Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.

Pupuh VII

1. Melambung kidung merdu pujian sang prabu, beliau membunuh musuh-musuh, Bagai matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa Girang janma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana bagai kumuda Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air.

2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi Menghukum penjahat bagai dewa Yana, menimbun harta bagaikan Waruna Para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu Menjaga pura sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan.

3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura Semua para puteri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih Namun sang permaisuri, keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik Paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan Baginda.

4. Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardani, sangat cantik Sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan Sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh negara Sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh VIII

1. Tersebut keajaiban kota: tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus-menerus meronda, jaga paseban.

2. Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir Di sebelah timur: panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat, Di bagian utara, di selatan pekan, rumah berjejal jauh memanjang, sangat indah, Di selatan jalan perempat: balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.

3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan Yang meluas ke empat arah; bagaian utara paseban pujangga dan menteri. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buda, yang bertugas membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.

4. Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa Di sebelah tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara tempat Buda bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun Berkorban.

5. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat pintu, itulah paseban Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga Lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai Berkicau.

6. Di dalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua. Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar Tutur.

Pupuh IX

1. Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan, dan banyak lagi.

2. Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak berbatas Menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua, Di sebelah utara pintu istana, di selatan satria dan pujangga.

3. Di bagian barat: beberapa balai memanjang sampai mercudesa, Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga, Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai, Tempat tinggal abdi Sri narapati Paguhan, bertugas menghadap.

4. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri, Rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias, Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan, Itulah balai tempat terima tatamu Sri nata di Wilwatikta.

Pupuh X

1. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanuruhan, rangga, Tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.

2. Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan, Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh, Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh negara, Lima menteri utama, yang mengawal urusan negara.

3. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, Berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya, Bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh XI

1. Itulah penghadap balai witana, tempat takhta, yang terhias serba bergas, Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama, Ke Istana Selatan, tempat Singawardana, permaisuri, putra dan putrinya, Ke Istana Utara, tempat Kertawardana. Ketiganya bagai kahyangan.

2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni, Kakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan, Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik Perhatian, Bunga tanjung, kesara, campaka dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh XII

1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja, Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka Barat tempat arya, menteri dan sanak-kadang adiraja.

2. Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib, Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci, Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem, Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.

3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi, Di situ menetap patih Daha, adinda Baginda di wengker, Batara Narapati, termashur sebagai tulang punggung praja, Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.

4. Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara, Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur, Tangan kanan maharaja sebagai, penggerak roda Negara.

5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus, Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buda, Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan satria, Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura. 6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang, Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama, Negara-negara di nusantara, dengan Daha bagai pemuka, Tunduk menengadah, berlindung di bawah Wilwatika.

Pupuh XIII

1. Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu M’layu: Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.

2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus Itulah terutama negara-negara Melayu yang t’lah tunduk, Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

Pupuh XIV

1. Kadandangan, Landa Samadang dan Tirem tak terlupakan Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.

2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu, Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.

3. Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.

4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah, Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, Sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.

5. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar, Lagi pula Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh XV

1. Inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan, Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari, Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari, Campa, Kamboja dan Yawana yalah negara sahabat.

2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara asing, Karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu, Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat, Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.

3. Semenjak nusantara menadah perintah Sri Baginda, Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti, Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan, Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.

Pupuh XVI

1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara, Dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar untung, Seyogyanya, jika mengemban perintah ke mana juga, Menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.

2. Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata, Dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata, Dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa, Karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.

3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali, Boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, Bahkan menurut kabaran mahamuni Empu Barada, Serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.

4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, Dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat, Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata, Resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.

5. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah, Dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa, Tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan, Pimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi berjasa.

Pupuh XVII

1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara, Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia, Tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega, Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.

2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama, Lepas dari segala duka, mengeyam hidup penuh segala kenikmatan, Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.

3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda, Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura, Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan, Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.

4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling, Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura, Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan, Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi Lima.

5. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.

6. Tahun Aksatisurya (1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring, Tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra, Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman. 7

. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah, Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, Naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, Menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.

8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja, Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin, Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar kebudaan mengganti sang ayah, Semua pendeta Buda umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.

9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata, berdamping, tak lain, Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga, Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah, Karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.

10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan, Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi Jalan. 11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan, Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai, Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya, Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu. Pupuh XVIII 1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak, Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit, Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki, Berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda. 2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya, Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap ment’ri lain lambangnya, Rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan, Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.

3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari, Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih, Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma mas mengkilat, Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.

4. Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, Beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah, Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi, Ringkasnya para wanita berkereta merah, berjalan paling muka.

5. Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang, Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap, Rapat rampak prajurit pengiring Janggala Kediri, Panglarang, Sedah, Bhayangkari gem’ruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.

6. Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur; Sri Nata ingin rehat, Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi akrab, Larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Baginda lalu, Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.

7. Dukuh sepi kebudaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang, Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung, Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya, Puas sang dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.

8. Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda Nata, Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam, Baginda memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah, Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.

Pupuh XIX

1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam, Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes,Times, Serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemah-lembut, Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.

2. Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi, Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas, Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.

Pupuh XX

1. Sampai di desa kasogatan Baginda dijamu makan minum, Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We Petang, Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.

2. Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul, Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan, Itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu, Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh XXI

1. Fajar menyingsing; berangkat lagi Baginda melalui, Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran, Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.

2. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju, Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan, Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang, Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.

Pupuh XXII

1. Di Dampar dan Patunjungan Sri Baginda bercengkerma menyisir tepi lautan, Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintas kereta, Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga, Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.

2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan, Danau ditinggalkan, menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan, Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala, Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.

3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan, Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut, Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut, Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.

4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam, Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan, Sepeninggalnya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai, Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti Hujan.

5. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan, Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet, Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Baginda, Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya.

Pupuh XXIII

1. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang, Terlintas Jati Gumelar, Silabango, Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.

2. Lalu berangkat lagi ke Pakembangan, Di situ bermalam; segera berangkat, Sampailah beliau ke ujung lurah daya, Yang segera dituruni sampai jurang.

3. Dari pantai ke utara sepanjang jalan, Sangat sempit, sukar amat dijalani, Lumutnya licin akibat kena hujan, Banyak kereta rusak sebab berlanggar.

Pupuh XXIV

1. Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan, Dan Bangkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju, Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat, Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa.

2. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang, Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan, Perjalanan membelok ke utara melintas Turayan, Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh XXV

1. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para ment’ri dan abdi, Beramai-ramai Baginda telah sampai di desa Patukangan, Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep, Sebelah utara pakuwuan pasanggrahan Baginda Nata.

2. Semua menteri, mancanagara hadir di pakuwuan, Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap, Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama, Panji Siwa dan Panji Buda, faham hukum dan putus sastera.

Pupuh XXVI

1. Sang adipati Suradikara memimpin upacara sambutan, Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan, Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain, Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan.

2. Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan, Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau, Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh ombak, Itulah buatan sang arya bagai persiapan menyambut raja.

Pupuh XXVII

1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari, Baginda mendekati permaisuri seperti dewa-dewi, Para puteri laksana apsari turun dari kahyangan, Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran-cengang.

2. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan, Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk, Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum, Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh XXVIII

1. Selama kunjungan di desa Patukangan, Para menteri dari Bali dan Madura, Dari Balumbung, kepercayaan Baginda, Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.

2. Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah, Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing, Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun, Para penonton tercengang-cengang, memandang.

3. Tersebut keesokan hari pagi-pagi, Baginda keluar di tengah-tengah rakyat, Diiringi para kawi serta pujangga, Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Pupuh XXIX

1. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama, Berkabung kehilangan kawan kawi-Buda Panji Kertayasa, Teman bersuka-ria, teman karib dalam upacara ‘gama, Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.

2. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku ke mana juga, Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat, Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah, Namun, mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.

3. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta, Meliwati Tal Tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dan Bungatan, Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam, Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh XXX

1. Tersebut perjalanan Sri Narapati ke arah barat, Segera sampai Keta dan tinggal di sana lima hari, Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang, Tidak lupa menghirup kesenangan lain sehingga puas.

2. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap, Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Buda, Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang, Mambawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh XXXI

1. Keta t’lah ditinggalkan. Jumlah pengiring malah bertambah, Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora, Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan, Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar.

2. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan, Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja, Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat, “Memegat sigi” nama upacara penyekaran itu.

3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan, Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama, Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban, Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.

4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan, Mengunjungi desa-desa di sekitarnya genap lengkap, Beberapa malam lamanya berlumba dalam kesukaan, Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.

5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan, Melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam, Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala, Candinya Buda menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.

6. Perjamuan Tumenggung Empu Nala jauh dari cela, Tidak diuraikan betapa rahap Baginda Nata bersantap, Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang, Patunjungan, Terus langsung melintasi Patentanan, tarub dan Lesan.

Pupuh XXXII

1. Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, di sana bermalam pat hari, Di tanah lapang sebelah selatan candi Buda beliau memasang tenda, Dipimpin Arya Sujanottama para mantri dan pendeta datang menghadap, Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.

2. Berangkat dari situ Sri Baginda menuju asrama di rimba Sagara, Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh, Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama Sagara, Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.

3. Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap, Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka, Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta, Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.

4. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat, Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cita, Di atas tiap atap terpahat ucapan seloka yang disertai nama, Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samara-samar, menggirangkan.

5. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi, Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi selokan, Andung, karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya, Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu-rindu pandangan.

6. Tiada sampailah kata meraih keindahan asrama yang gaib dan ajaib, Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib, Semua para pertapa, wanita dan priya, tua-muda, nampaknya bijak, Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh XXXIII

1. Habis berkeliling asrama, Baginda lalu dijamu, Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap-resap, Segala santapan yang tersedia dalam pertapaan, Baginda membalas harta, membuat mereka gembira.

2. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan, Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan, Akhirnya cengkerma ke taman penuh dengan kesukaan, Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.

3. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat, Pandang sayang yang ditingggal mengikuti langkah yang pergi, Bahkan yang masih remaja puteri sengaja merenung, Batinnya: dewa asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh XXXIV

1. Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung, Bambu menutup mata sedih melepas selubung, Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit, Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.

2. Kereta lari cepat, karena jalan menurun, Melintasi rumah dan sawah di tepi jalan, Segera sampai Arya, menginap satu malam, Paginya ke utara menuju desa Ganding.

3. Para ment’ri mancanegara dikepalai, Singadikara, serta pendeta Siwa-Buda, Membawa santapan sedap dengan upacara, Gembira dibalas Baginda dengan mas dan kain. 4. Agak lama berhenti seraya istirahat, Mengunjungi para penduduk segenap desa, Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh XXXV

1. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan, Menganut jalan raya kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang, Ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan, Segera Baginda menuju kota Singasari bermalam di balai kota.

2. Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan ingin terus melancong, Menuju asrama Indarbaru yang letaknya di daerah desa Hujung, Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama, Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.

3. Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara, Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, sawah Hujung, Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura, Bila telah habis kerja di pura, ingin ia menyingkir ke Indarbaru.

4. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama, Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singasari, Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan, Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pupuh XXXVI

1. Pada subakala Baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan, Akan berbakti kepada makam batara bersama segala pengiringnya, Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan, Didahului kibaran bendera, disambut sorak-sorai dari penonton.

2. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat, Pendeta Siwa-Buda dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau, Tidak diceritakan betapa rahap Baginda bersantap sehingga puas, Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh XXXVII

1. Tersebut keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara, Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar, Di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya, Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.

2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah, Seperti gunung Meru, dengan arca batara Siwa di dalamnya, Karena Girinata putera disembah bagai dewa batara, Datu-leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.

3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai, Tembok serta pintunya yang masih berdiri, berciri kasogatan, Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tingggal yang timur, Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.

4. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata, Terpencar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman, Di luar gapura pabaktan luhur, tapi telah longsor tanahnya, Halamannya luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.

5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat, Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung, Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu, Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.

6. Sedih mata yang memandang, tak berdaya untuk menyembuhkan, Kecuali Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk, Beliau mashur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagad, Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan batara.

7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke candi Kidal, Sesudah menyembah batara, larut hari berangkat ke Jajago, Habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan, Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh XXXVIII

1. Keindahan Bureng: telaga tergumpal airnya jernih, Kebiru-biruan, di tengah: candi karang bermekala, Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga, Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.

2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati, Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi, Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang, Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.

3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa, Menuju Singasari, segera masuk ke pesanggrahan, Sang pujangga singgah di rumah pendeta Buda, sarjana, Pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi.

4. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan, Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan mashur, Meski sempurna dalam karya, jauh dari tingkah tekebur, Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru k’insafannya.

5. Tamu mendadak diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai, orang bahagia, pujangga besar pengiring raja Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”

6. Maksud kedatangannya: ingin tahu sejarah leluhur, Para raja yang dicandikan, masih selalu dihadap, Ceriterakanlah mulai dengan Batara Kagenengan, Ceriterakan sejarahnya jadi put’ra Girinata.

Pupuh XXXIX

1. Paduka Empuku menjawab: “Rakawi, Maksud paduka sungguh merayu hati, Sungguh paduka pujangga lepas budi, Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup.

2. Izinkan saya akan segera mulai: Cita disucikan dengan air sendang tujuh, Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.

3. Semoga rakawi bersifat pengampun, Di antara kata mungkin terselib salah, Harap percaya kepada orang tua, Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh XL

1. Pada tahun Saka lautan dasa bulan (1104) ada raja perwira yuda, Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu, Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti, Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.

2. Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur, Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan darmanya, Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, Ibu negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.

3. Tahun Saka lautan dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri, Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa, Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil, Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.

4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan, Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah, Bersatu Janggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti, Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa.

5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata, Terjamin keselamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya, Tahun Saka muka lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwa pada, Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buda.

Pupuh XLI

1. Batara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti, Tahun Saka perhiasan gunung Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka, Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.

2. Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Beserta Narasinga bagai Madawa dengan Indra memerintah negara, Beliau memusnahkan perusuh Linggapati serta segenap pengikutnya, Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di bumi.

3. Tahun Saka rasa gunung bulan (1176) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia, Raja Kertanagara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singasari.

4. Tahun Saka awan sembilan mengebumikan tanah (1192) raja Wisnu berpulang, Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Buda, Sementara itu Batara Narasingamurti pun pulang ke Surapada, Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa mahadewa.

5. Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat, Bersama Cayaraja, musnah pada tahun Saka naga mengalahkan bulan (1192), Tahun Saka muda bermuka rupa (1197) Baginda menyuruh tundukkkan Melayu, Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja.

Pupuh XLII

1. Tahun Saka janma sunyi surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat, Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara, Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali, Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.

2. Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Baginda, Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau, Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan, Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.

3. Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada tawakal dan bijak, Faham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali, Karenanya tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Buda, Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Pupuh XLIII

1. Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara, Tahun Saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Budaloka, Sepeninggalnya datang zaman Kali, dunia murka, timbul huru hara, Hanya batara raja yang faham dalam nam guna, dapat menjaga Jagad.

2. Itulah sebabnya Baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni, Teguh tawakal memegang pancasila, laku utama, upacara suci, Gelaran Jina beliau yang sangat mashur yalah Sri Jnyanabadreswara, Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.

3. Berlumba-lumba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan, Pertama-tama tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati, Melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh praja, Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.

4. Di antara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau, Faham akan nan guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama, Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama, Itulah sebabnya beliau turun-temurun menjadi raja pelindung.

5. Tahun Saka laut janma bangsawan yama (1214) Baginda pulang ke Jinalaya, Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama, Beliau diberi gelaran: Yang Mulia bersemayam di alam Siwa-Buda, Di makam beliau bertegak arca Siwa-Buda terlampau indah permai.

6. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan, Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan arca Sri Bajradewi, Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan negara, Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Pupuh XLIV

1. Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Budabuana, Merata takut, duka, huru hara, laksana zaman Kali kembali, Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, Berkhianat, karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.

2. Tahun Saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya, Atas perintah Siwaput’ra Jayasaba berganti jadi raja, Tahun Saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri, Tahun tiga sembilan Siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir.

3. Semua raja berbakti kepada cucu putera Girinata, Segenap pulau tunduk kepada kuasa raja Kertanagara, Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka, Ternyata damai tak baka akibat bahaya anak piara Kali.

4. Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar, Lalu ditundukkan putera Baginda; ketenteraman kembali, Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia, Bersekutu dengan bangsa Tatar, menyerang melebur Jayakatwang.

Pupuh XLV

1. Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang-cemerlang kembali, Tahun Saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja, Disembah di Majapahit, k’sayangan rakyat, pelebur musuh, Bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.

2. Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di takhta, Seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah, Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya, Puteri Kertanagara cantik-cantik bagai bidadari.

Pupuh XLVI

1. Sang Parameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela, Lalu Parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara, Prajnyaparamita Jayendradewi, cantik manis m’nawan hati, Gayatri, yang bungsu, paling terkasih, digelarai Rajapatni.

2. Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga, Karena Batara Wisnu dengan Batara Narasingamurti, Akrab tingkat pertama; Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal, Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Buda.

Pupuh XLVII

1. Dyah Lembu Tal itulah bapa Baginda Nata, Dalam hidup atut runtun sepakat sehati, Setitah raja diturut, menggirangkan pandang, Tingkah laku mereka semua meresapkan,

2. Tersebut tahun Saka tujuh orang dan surya (1217), Baginda menobatkan put’ranya di Kediri, Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari, Bergelar Sang raja putera Jayanagara.

3. Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231), Sang prabu mangkat, ditanam di dalam pura, Antahpura, begitu nama makam beliau, Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa.

Pupuh XLVIII

1. Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta, Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik, Bagai dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari, Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani Daha.

2. Tersebut pada tahun Saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan Madu, Baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh, Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.

3. Tahun Saka bulatan memanah surya (1250) beliau berpulang, Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama, Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah, Di Sukalila terpahat arca Buda sebagai jelmaan Amogasidi.

Pupuh XLIX

1. Tahun Saka Uma memanah dwi rupa (1256), Rani Jiwana Wijayatunggadewi, Bergilir mendaki takhta Wilwatikta, Didampingi raja put’ra Singasari.

2. Atas perintah ibunda Rajapatni, Sumber bahagia dan pangkal kuasa, Beliau jadi pengemban dan pengawas, Raja muda, Sri Baginda Wilwatikta.

3. Tahun Saka api memanah hari (1253), Sirna musuh di Sadeng, Keta diserang, Selama bertakhta, semua terserah, Kepada menteri bijak, Mada namanya.

4. Tahun Saka panah musim mata pusat (1265), Raja Bali yang alpa dan rendah budi, Diperangi, gugur bersama balanya, Menjauh segala yang jahat, tenteram.

5. Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah, Sungguh dan mengharukan ujar Sang Kaki, Jelas keunggulan Baginda di dunia, Dewa asalnya, titisan Girinata.

6. Barangsiapa mendengar kisah raja, Tak puas hatinya, bertambah baktinya, Pasti takut melakukan tidak jahat, Menjauhkan diri dari tindak durhaka.

7. Paduka Empu minta maaf berkata: “Hingga sekian kataku, sang rakawi Semoga bertambah pengetahuanmu Bagai buahnya, gubahlah puja sastra”.

8. Habis jamuan rakawi dengan sopan, Minta diri kembali ke Singasari, Hari surut sampai pesanggrahan lagi, Paginya berangkat menghadap Baginda.

Pupuh L

1. Tersebut Baginda Raja berangkat berburu, Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta, Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara, Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.

2. Bala bulat beredar membuat lingkaran, Segera siap kereta berderet rapat, Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit, Burung ribut beterbangan berebut dulu.

3. Bergabung sorak orang berseru dan membakar, Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur, Api tinggi menyala menjilat udara, Seperti waktu hutan Kandawa terbakar.

4. Lihat rusa-rusa lari lupa darat, Bingung berebut dahulu dalam rombongan, Takut miris menyebar, ingin lekas lari, Malah menengah berkumpul tumpuk timbun.

5. Banyaknya bagai banteng di dalam Gobajra, Penuh sesak, bagai lembu di Wresabapura, Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci, Biawak, kucing, kera, badak dan lainnya.

6. Tertangkap segala binatang dalam hutan, Tak ada yang menentang, semua bersatu, Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh, Berunding dengan singa sebagai ketua.

Pupuh LI

1. Izinkanlah saya bertanya kepada sang raja satwa, Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari, Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?

2. Seolah-olah demikian kata srigala dalam rapat, Kijang, kaswari, rusa dan kelinci serempak menjawab: “Hemat patik tidak ada jalan lain kecuali lari Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin”.

3. Banteng, kerbau, lembu serta harimau serentak berkata: “Amboi! Celaka bang kijang, sungguh binatang hina lemah Bukanlah sifat perwira lari, atau menanti mati, Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.”

4. Jawab singa: Usulmu berdua memang pantas diturut, Tapi harap dibedakan, yang dihadapi baik atau buruk, Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan, Karena sia-sia belaka, jika mati terbunuh olehnya.

5. Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Buda, Seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta, Jika menghadapi raja berburu, tunggu mati saja, Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.

6. Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk, Sebagai titisan Batara Siwa berupa narpati, Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau, Lebih utama daripada terjun ke dalam telaga.

7. Siapa di antara sesama akan jadi musuhku? Kepada tripaksa aku takut, lebih utama menjauh, Niatku, jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup, Mati olehnya, tak akan lahir lagi bagai binatang.

Pupuh LII

1. Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!”, Kemudian serentak maju berdesak, Prajurit darat yang terlanjur langkahnya, Tertahan tanduk satwa, lari kembali.

2. Tersebut adalah prajurit berkuda, Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul, Kasihan! Beberapa mati terbunuh, Dengan anaknya dirayah tak berdaya.

3. Lihatlah celeng jalang maju menerjang, Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah, Buas membekos-bekos, matanya merah, Liar dahsyat, saingnya seruncing golok.

Pupuh LIII

1. Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru menyeru, Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya, Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap, Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.

2. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing, Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun, Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang, Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.

3. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun, Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak, Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah, Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!.

4. Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta, Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak, Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh, Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk timbun.

5. Ada pendeta Siwa dan Buda yang turut menombak, mengejar, Disengau harimau, lari diburu binatang mengancam, Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila, Turut melakukan kejahatan, melupakan darmanya.

Pupuh LIV

1. Tersebut Baginda telah mengendarai kereta kencana, Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya, Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan, Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai.

2. Celeng, kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan, Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai, Menteri, tanda dan pujangga di punggung kuda turut memburu, Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, tertikam.

3. Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut, di bawah terang, Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda, Puaslah hati Baginda, sambil bersantap dihadap pendeta, Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.

Pupuh LV

1. Terlangkahi betapa narpati sambil berburu menyerap sari keindahan, Gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan, Membawa wanita seperti cengkerma; di hutan bagai menggempur negara, Tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap darma ahimsa.

2. Tersebut beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura, Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan, Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar, Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai di situ perjalanan beliau.

3. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Balanak, Menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam, Kembali ke selatan, ke barat, menuju Jejawar di kaki gunung berapi, Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi Makam.

Pupuh LVI

1. Adanya candi makam tersebut sudah sejak zaman dahulu, Didirikan oleh Sri Kertanagara, moyang Baginda raja, Di situ hanya jenazah beliau sahaja yang dimakamkan, Kar’na beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Buda.

2. Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Buda, sangat tinggi, Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai, Dan arca Maha Aksobya bermahkota tinggi tidak bertara, Namun telah hilang; memang sudah layak, tempatnya: di Nirwana.

Pupuh LVII

1. Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang, Ada pada Baginda guru besar, mashur, Pada Paduka, Putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni, Telah terbukti bagai mahapendeta, terpundi sasantri.

2. Senang berziarah ke tempat suci, bermalam dalam candi, Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah, Menimbulkan iri di dalam hati pengawas candi suci, Ditanya, mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.

3. Pada Paduka menjelaskan sejarah candi makam suci, Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas, Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti, Kecewa! Tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.

4. Tahun Saka api memanah hari (1253) itu hilangnya arca, Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam, Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka, Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?.

5. Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surga turun, Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai, Hiasan di dalamnya naga puspa yang sedang berbunga, Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri.

6. Sementara Baginda girang cengkerma menyerap pemandangan, Pakis berserak sebar di tengah tebat bagai bulu dada, Ke timur arahnya di bawah terik matahari Baginda, Meninggalkan candi Pekalongan girang ikut jurang curam.

Pupuh LVIII

1. Tersebut dari Jajawa Baginda b’rangkat ke desa Padameyan, Berhenti di Cunggrang, mencahari pemandangan, masuk hutan rindang, Ke arah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang, Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.

2. Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap, Ke barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu, Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput, Yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.

3. Pukul tiga itulah waktu Baginda bersantap bersama-sama, Paling muka duduk Baginda, lalu dua paman berturut tingkat, Raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan, Di sisi Sri Baginda; terlangkahi berapa lamanya bersantap.

Pupuh LIX

1. Paginya pasukan kereta Baginda berangkat lagi, Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring, Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang, Dijamu sekadarnya karena kunjungannya mendadak.

2. Banasara dan Sangkan Adoh telah lama dilalui, Pukul dua Baginda t’lah sampai di perbatasan kota, Sepanjang jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati, Kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan.

3. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan, Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka, Di belakangnya, tidak jauh, berikut Narpati Lasem, Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang.

4. Rani Daha, rani Wengker semuanyan urut belakang, Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring, Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar, Diiringi beberapa ribu perwira dan para ment’ri.

5. Tersebut orang yang rapat rampak menambak tepi jalan, Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas, Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat, Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk kainnya.

6. Yang jauh tempatnya, memanjat ke kayu berebut tinggi, Duduk berdesak-desak di dahan, tak pandang tua muda, Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning, Lupa malu dilihat orang, karena tepekur memandang.

7. Gemuruh dengung gong menampung Sri Baginda raja datang, Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan, Setelah raja lalu, berarak pengiring di belakang, Gajah, kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Pupuh LX

1. Yang berjalan rampak berarak-arak, Barisan pikulan bejalan belakang, Lada, kesumba, kapas, buah kelapa, Buah pinang, asam dan wijen terpikul.

2. Di belakangnya pemikul barang berat, Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan, Kanan menuntun kirik dan kiri genjik, Dengan ayam itik di k’ranjang merunduk.

3. Jenis barang terkumpul dalam pikulan, Buah kecubung, rebung, s’ludang, cempaluk, Nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk, Gelaknya seperti hujan panah jatuh.

4. Tersebut Baginda telah masuk pura, Semua bubar masuk ke rumah masing-masing, Ramai bercerita tentang hal yang lalu, Membuat gembira semua sanak kadang.

Pupuh LXI

1. Waktu lalu; Baginda tak lama di istana, Tahun Saka dua gajah bulan (1282) Badra pada, Beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur, Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.

2. Tahun Saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, Baginda raja berangkat menyekar ke Palah, Dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati, Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita.

3. Dari Blitar ke selatan jalannya mendaki, Pohonnya jarang, layu lesu kekurangan air, Sampai Lodaya bermalam beberapa hari, Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.

4. Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping, Ingin memperbaiki candi makam leluhur, Menaranya rusak, dilihat miring ke barat, Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.

Pupuh LXII

1. Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasati, yang dibaca lagi, Diukur panjang lebarnya; di sebelah timur sudah ada tugu, Asrama Gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam, Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.

2. Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Jnyanabadran terus ke timur, Berhenti di Bajralaksmi dan bermalan di candi Surabawana, Paginya berangkat lagi, berhenti di Bekel, sore sampai pura, Semua pengiring bersowang-sowang pulang ke rumah masing-masing.

Pupuh LXIII

1. Tersebut paginya Sri naranata dihadap para ment’ri semua, Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur, Patih amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.

2. Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, Supaya pesta serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda, Di istana pada tahun Saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada, Semua pembesar dan Wreda menteri diharap memberi sumbangan”.

3. Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda, Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan ment’ri, Yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala, Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.

4. Tersebut sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana, Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil, Ada yang mengetam baki makanan, bokor-bokoran, membuat arca, Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan,

Pupuh LXIV

1. Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi, Balai Witana terhias indah, di hadapan rumah-rumahan, Satu di antaranya berkaki batu karang, bertiang merah, Indah dipandang, semua menghadap ke arah takhta Baginda.

2. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja, Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk, Para isteri, pembesar, menteri, pujangga serta pendeta, Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.

3. Demikian persiapan Sri Baginda memuja Buda Sakti, Semua pendeta Buda berdiri dalam lingkaran bagai saksi, Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka, Tenang, sopan, budiman faham tentang sastra tiga tantra.

4. Umurnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur, Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu, Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran, Mudra, mantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.

5. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surga dengan doa, Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna, Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia, Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucap puja.

Pupuh LXV

1. Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara, Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta genderang, Didudukkan di atas singasana, besarnya setinggi orang berdiri, Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.

2. Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca, Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah, Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru, Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.

3. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap, Bersusun timbun seperti pohon, dan sirih bertutup kain sutera, Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini, Terus-menerus memuntahkan harta dan makanan dari nganga mulutnya.

4. Raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat, Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan, Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis, Dipertunjukkan selama upacara untuk mengharu-rindukan hati.

5. Paling haibat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara, Digerakkan oleh sejumlah dewa dan danawa dahsyat menggusarkan pandang, Ikan lambora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar, Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang, ditengah tengah lautan besar.

6. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi, Agar para wanita, menteri, pendeta dapat makanan sekenyangnya, Tidak terlangkahi para kesatria, arya dan para abdi di pura, Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh LXVI

1. Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian, Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul, Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung, Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.

2. Esoknya patih mangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan, Sajian perempuan sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa, Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian, Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan….

3. Sungguh- sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh, Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan, Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta, Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air.

4. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak, Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur, Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri, Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang ngelamun karena tercengang memandang.

5. Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan, Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara, Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-mengakak, Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

Pupuh LXVII

1. Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat, Pasti membuat gembira jiwa Sri Rajapatni yang sudah mangkat, Semoga beliau melimpahkan berkat kepada Baginda raja, Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.

2. Paginya pendeta Buda datang menghormati, memuja dengan sloka, Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Budaloka, Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara, Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.

3. Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancar, Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak, Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274), Dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Pupuh LXVIII

1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Erlangga kepada dua puteranya.

2. Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga, Diam di tengah kuburan Lemah Citra, jadi pelindung rakyat, Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan, Hyang Mpu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman.

3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah negara, Tapal batas negara ditandai air kendi, mancur dari langit, Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan, Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.

4. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam, Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan, Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah, Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.

5. Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui, Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi, Semoga Baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada, Berjaya dalam memimpin negara, yang sudah bersatu padu.

Pupuh LXIX

1. Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun, Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi, Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu agama, Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda

2. Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni, Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya, Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja, Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun.

3. Candi makam Sri Rajapatni tersohor sebagai tempat keramat, Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta, Di tiap daerah rakyat serentak membuat peringatan dan memuja, Itulah suarganya, berkat berputera, bercucu narendra utama.

Pupuh LXX

1. Tersebut pada tahun Saka angin delapan utama (1285), Baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam, Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat, Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.

2. aham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa, Memangku jabatannya semenjak mangkat Kertarajasa, Ketika menegakkan menara dan mekala gapura, Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.

3. Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura, Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering, Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa, Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.

Pupuh LXXI

1. Tahun Saka tiga angin utama (1253) beliau mulai memikul tanggung jawab, Tahun rasa (1286) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa, Sang dibyacita Gajah Mada cinta kepada sesama tanpa pandang bulu, Insaf bahwa hidup ini tidak baka, karenanya beramal tiap hari.

2. Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta ibunda, Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki patih Mada, Yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat, Lama timbang-menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.

3. Baginda berpegang teguh, Adimenteri Gajah Mada tak akan diganti, Bila karenanya timbul keberatan, beliau sendiri bertanggung jawab, Memilih enam menteri yang menyampaikan urusan negara ke istana, Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan Baginda.

Pupuh LXXII

1. Itulah putusan rapat tertutup, Hasilnya yang diperoleh perundingan, Terpilih sebagai wredamenteri, Karib Baginda bernama Mpu Tandi.

2. Penganut karib Sri Baginda Nata, Pahlawan perang bernama Mpu Nala, Mengetahui budi pekerti rakyat, Mancanegara bergelar tumenggung.

3. Keturunan orang cerdik dan setia, Selalu memangku pangkat pahlawan, Pernah menundukkan negara Dompo, Serba ulet menaggulangi musuh.

4. Jumlahnya bertambah dua menteri, Bagai pembantu utama Baginda, Bertugas mengurus soal perdata, Dibantu oleh para upapati.

5. Mpu Dami menjadi menteri muda, Selalu ditaati di istana, Mpu Singa diangkat sebagai saksi, Dalam segala perintah Baginda.

6. Demikian titah Sri Baginda Nata, Puas, taat teguh segenap rakyat, Tumbuh tambah hari setya baktinya, Karena Baginda yang memerintah.

Pupuh LXXIII

1. Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih bijak, Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikut undang-undang, Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas, Mashur nama beliau, mampu menembus zaman, sungguhlah titisan batara.

2. Candi makam serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala, Yang belum siap diselesaikan, dijaga dan dibina dengan saksama, Yang belum punya prasasti, disuruh buatkan piagam pada ahli sastra, Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.

3. Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan, Disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu,Wedwawedan, Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Kalang Brat dan Jago, Lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.

Pupuh LXXIV

1. Makam rani : Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir, Bangunan baru Prajnyaparamitapuri, Di Bayalangu yang baru saja dibangun.

2. Itulah dua puluh tujuh candi raja, Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra, Dijaga petugas atas perintah raja, Diawasi oleh pendeta ahli sastra.

Pupuh LXXV

1. Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara, Orang utama, yang saksama dan tawakal membina semua candi, Setia kepada Baginda, hanya memikirkan kepentingan bersama, Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.

2. Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Baginda, Darmadyaksa kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan, Darmadyaksa kasogatan disuruh menjaga biara kebudaan, Menteri her-haji bertugas memelihara semua pertapaan.

Pupuh LXXVI

1. Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: biara relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna, Parhyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimandana, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadang, Panggumpulan, Katisanggraha, begitu pula Jayasika.

2. Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigit, Nyudonta, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula, Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling, ditambah sebuah lagi Batu Putih,

3. Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari, Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan, Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang.

4. Baryang, Amretawardani, Wetiwetih, Kawinayan, Patemon, serta Kanuruhan, Engtal, Wengker, Banyu Jiken, Batabata, Pagagan, Sibok dan Padurungan, Pindatuha, Telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah lagi Sukalila, Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara, Kulur, Tangkil dan sebagainya.

Pupuh LXXVII

1. Selanjutnya disebut berturut desa kebudaan Bajradara: Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tanjung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadara, Tidak juga terlangkahi Kumuda, Ratna serta Nadinagara,

2. Wungajaya, Palandi, Tangkil, Asahing, Samici serta Acitahen, Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Pojahan dan Balamasin, Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan, serta Kahuripan, Ketaki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala.

3. Badur, Wirun, Wungkilur, Mananggung, Watukura serta Bajrasana, Pajambayan, Salanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu, Pohaji, Wangkali, Biru, Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir, Itulah desa kebudaan Bajradara yang sudah berprasasti.

Pupuh LXXVIII

1. Desa keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan, Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun, Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air, Yang Mulia Mahaguru—demikian sebutan beliau.

2. Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut piagam, Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, di antaranya yang penting: Bangawan, Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas, Wasista, Palah, Padar, Siringan, itulah desa perdikan Siwa.

3. Wangjang, Bajrapura, Wanara, Makiduk, Hanten, Guha dan Jiwa, Jumpud, Soba, Pamuntaran, dan Baru, perdikan Buda utama, Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagiri, Centing, Wekas, Wandira, Wandayan, Gatawang, Kulampayan dan Talu, pertapaan resi.

4. Desa perdikan Wisnu berserak di Batwan serta Kamangsian, Batu, Tanggulian, Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting, Sedang, Medang, Hulun Hyan, Parung, Langge, Pasajan, Kelut, Andelmat, Paradah, Geneng, Panggawan, sudah sejak lama bebas pajak.

5. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa, Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak, Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Baginda raja, Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.

Pupuh LXXIX

1. Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa, Perdikan, candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh, Yang berpiagam dipertahankan; yang tidak segera diperintahkan, Pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.

2. Segenap desa sudah diteliti menurut perintah Raja Wengker, Raja Singasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk-salurannya, Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan, Segenap penduduk Jawa patuh mengindahkan perintah Baginda raja.

3. Semua tata aturan patuh diturut oleh pulau Bali, Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya, Pembesar kebudaan Badahulu, Badaha Lo Gajah ditugaskan, Membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.

Pupuh LXXX

1. Perdikan kebudayaan Bali sebagai berikut; biara Baharu (hanyar), Kadikaranan, Purwanagara, Wiharabahu, Adiraja, Kuturan, Itulah enam kebudayaan Bajradara, biara kependetaan, Terlangkahi biara dengan bantuan negara seperti Arya-dadi.

2. Berikut candi makam di Bukit Sulang, Lemah Lampung, dan Anyawasuda, Tatagatapura, Grehastadara, sangat mashur, dibangun atas piagam, Pada tahun Saka angkasa rasa surya (1260) oleh Sri Baginda Jiwana, Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya: upasaka wreda mentri.

3. Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri, Terjaga dan terlindungi segala bagunan setiap orang budiman, Begitulah tabiat raja utama, berjaya, berkuasa, perkasa, Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.

4. Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan, Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai ke tepi laut, Menenteramkan hati pertapa yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan, Lega bertapa brata dan bersamadi demi kesejahteraan negara.

Pupuh LXXXI

1. Besarlah minat Baginda untuk tegaknya tripaksa, Tentang piagam beliau bersikap agar tetap diindahkan, Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya, Laku utama, tata sila dan adat-tutur diperhatikan.

2. Itulah sebabnya sang caturdwija mengejar laku utama, Resi, Wipra, pendeta Siwa Buda teguh mengindahkan tutur, Catur asrama terutama catur basma tunduk rungkup tekun, Melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.

3. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran, Para menteri dan arya pandai membina urusan negara, Para puteri dan satria berlaku sopan, berhati teguh, Waisya dan sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.

4. Empat kasta yang lahir sesuai keinginan Hyang Maha Tinggi, Konon tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah Baginda, Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah, Candala, Mleca dan Tuca mencoba mencabut cacad-cacadnya.

Pupuh LXXXII

1. Begitulah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata, Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat, Baginda menjadi teladan di dalam menjalankan enam darma, Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku sang prabu.

2. Sri Nata Singasari membuka ladang luas di daerah Sagala, Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang, Mendirikan perdikan Buda di Rawi, Locanapura, Kapulungan, Baginda sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.

3. Semua menteri mengenyam tanah pelenggahan yang cukup luas, Candi, biara dan lingga utama dibangun tak ada putusnya, Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta, Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.

Pupuh LXXXIII

1. Begitulah keluhuran Sri Baginda ekananta di Wilwatika, Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang, Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih, Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.

2. Bertambah mashur keluhuran pulau Jawa di seluruh jagad raya, Hanya Jambudwipa dan pulau Jawa yang disebut negara utama, Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya, Panji Jiwalekan dan Tengara yang menonjol bijak di dalam kerja.

3. Mashurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur, Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya, Hyang brahmana, sopan, suci, ahli weda, menjalankan nam laku utama, Batara Wisnu dengan cipta dan mentera membuat sejahtera negara.

4. Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung, Dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Karnataka, Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang, Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang.

5. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormat di seluruh negara, Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa, Hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti, Pekan penuh sesak pembeli penjual, barang terhampar di dasaran.

6. Berputar keliling gamelan dalam tanduan diarak rakyat ramai, Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura, Korban api, ucapan mantra dilakukan para pendeta Siwa-Buda, Mulai tanggal delapan bulan petang demi keselamatan Baginda.

Pupuh LXXXIV

1. Tersebut pada tanggal patbelas bulan petang Baginda berkirap, Selama kirap keliling kota busana Baginda serba kencana, Ditata jempana kencana, panjang berarak beranut runtun, Menteri, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.

2. Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut-menyahut, Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka, Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh Jawa, Tanda bukti Baginda perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.

3. Telah naik Baginda di takhta mutu-manikam, bergebar pancar sinar, Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti, Yang nampak, semua serba mulia, sebab Baginda memang raja agung, Serupa jelmaan Sang Sudodanaputera dari Jina bawana.

4. Sri nata Pajang dengan sang permaisuri berjalan paling muka, Lepas dari singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak, Menteri Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok, Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.

5. Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya, Lalu raja Kediri dengan permaisuri serta menteri dan tentara, Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring, Sebagai penutup Baginda dan para pembesar seluruh Jawa.

6. Penuh berdesak sesak para penonton ribut berebut tempat, Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang, Tiap rumah mengibarkan bendera, dan panggung membujur sangat panjang, Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit-impitan.

7. Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton, Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil, Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci di dulang berukir, Menteri serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.

Pupuh LXXXV

1. Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka, Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir, Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota, Begitu pula para kesatria, pendeta dan brahmana utama.

2. Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat, Tetapi menganut ajaran Rajakapakapa, dibaca tiap Caitra, Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang, Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.

Pupuh LXXXVI

1. Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar, Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat, Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut singa, Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.

2. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata, Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya, Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai, Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.

3. Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang, Tiangnya penuh berukir dengan isi dongengan parwa, Dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana, Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh LXXXVII

1. Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat, Bagian utara dan selatan untuk raja dan arya, Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur, Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.

2. Di situlah Baginda memberi rakyat santapan mata, Pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk-mendesuk, Perang keris, adu tinju, tarik tambang, menggembirakan, Sampai tiga empat hari lamanya baharu selesai.

3. Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar, Segala perlombaan bubar: rakyat pulang bergembira, Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang, Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bukan pakaian.

Pupuh LXXXVIII

1. Segenap ketua desa dan wadana tetap tinggal, paginya mereka, Dipimpin Arya Ranadikara menghadap Baginda minta diri di pura, Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan, Sri Baginda duduk di atas takhta, dihadap para abdi dan pembesar. 2. Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana: “Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada Baginda raja, Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu, Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina.

3. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah, Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh di tangan petani besar, Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga, Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar”.

4. Sri nata Kertawardhana setuju dengan anjuran memperbesar desa, “Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan, Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila, Agar bertambah kekayaan Baginda demi kesejahteraan negara”.

5. Kemudian bersabda Baginda nata Wilwatikta memberi anjuran: “Para budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi, Rajakarya, terutama bea-cukai, pelawang, supaya dilunasi, Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas”.

Pupuh LXXXIX

1. Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati, Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi, Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan, Biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.

2. Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan, Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan, Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita, Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”

3. Begitu perintah Baginda kepada wadana, yang tunduk mengangguk, Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau, Menteri, upapati serta para pembesar menghadap bersama, Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.

4. Bangunan sebelah timur laut telah dihiaisi gilang cemerlang, Di tiga ruang para wadana duduk teratur menganut sudut, Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas, Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Baginda.

5. Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, Ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba, Makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak, Jika dilanggar, mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.

Pupuh XC

1. Dihidangkan santapan untuk orang banyak, Makanan serba banyak serta serba sedap, Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak, Berderap cepat datang menurut acara.

2. Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing, Hanya dihidangkan kepada para penggemar, Karena asalnya dari pelbagai desa, Mereka diberi kegemaran, biar puas.

3. Mengalir pelbagai minuman keras segar, Tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya, Itulah hidangan minuman yang utama, Wadahnya emas berbentuk aneka ragam.

4. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar, Berisi minuman keras dari aneka bahan, Beredar putar seperti air yang mengalir, Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk.

5. Meluap jamuan Baginda dalam pesta, Hidangan mengalir menghampiri tetamu, Dengan sabar segala sikap diizinkan, Penyombong, pemabuk jadi buah gelak tawa.

6. Merdu merayu nyanyian para biduan, Melagukan puji-pujian Sri Baginda, Makin deras peminum melepaskan nafsu, Habis lalu waktu, berhenti gelak-gurau.

Pupuh XCI

1. Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan, Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.

2. Disuruh menghadap Baginda, diajak minum bersama, Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi, Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian, Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.

3. Tercengang dan terharu hadirin mendengar swara merdu, Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu, Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis, Resap mengharu kalbu bagai desiran buluh perindu.

4. Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlagu, Bersama Arya Mahadikara mendadak berteriak, Bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng, “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan.

5. Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak, Bergegas lekas panggung disiapkan di tengah mandapa, Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyiakan lagu, Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati.

6. Bubar mereka itu, ketika Sri Baginda keluar, Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah, Resap meremuk rasa merasuk tulang sungsum pendengar,

7. Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng, Delapan pengiringnya di belakang, bagus, bergas pantas, Keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya, Itulah sebabnya banyolannya selalu tepat kena.

8. Tari sembilan orang telah dimulai dengan banyolan, Gelak tawa terus-menerus, sampai perut kaku beku, Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu, Tepat mengenai sasaran, menghanyutkan hati penonton.

9. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir, Para pembesar minta diri mencium duli paduka, Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”, Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.

Pupuh XCII

1. Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita, Terang Baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan negara, Meskipun masih muda, dengan suka rela berlaku bagai titisan Buda, Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana.

2. Terus membumbung ke angkasa kemashuran dan peperwiraan Sri Baginda, Sungguh beliau titisan Batara Girinata untuk menjaga buana, Hilang dosanya orang yang dipandang, dan musnah letanya abdi yang disapa.

3. Itulah sebabnya keluhuran beliau mashur terpuji di tiga jagad, Semua orang tinggi, sedang, dan rendah menuturkan kata-kata pujian, Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung, Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Pupuh XCIII

1. Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda, Sang pendeta Budaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali, Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa, Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah.

2. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra, Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian, Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma, Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh XCIV

1. Mendengar pujian para pujanggga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura, Maksud pujiannya, agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya, Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Baginda dan rakyat.

2. Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan aswina hari purnama, Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.

3. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar, Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”, Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita“Sugataparwa”, Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.

4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin, Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh XCV

1. Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tingggal di dusun, Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar … manis, Teman karib dan orang budiman meningggalkan tanpa belas kasihan, Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan?.

2. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal, Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian, Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diserapkan bagai pegangan, Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.

3. Segera bertapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan, Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan bertapa, Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi, Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal.

Pupuh XCVI

1. Pra panca itu pra lima buah, Cirinya: cakapnya lucu, Pipinya sembab, matanya ngeliyap, Gelaknya terbahak-bahak.

2. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru, Bodoh, tak menurut ajaran tutur, Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa, Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Pupuh XCVII

1. Ingin menyamai Mpu Winada, Mengumpulkan harta benda, Akhirnya hidup sengsara, Tapi tetap tinggal tenang.

2. Winada mengejar jasa, Tanpa ragu wang dibagi, Terus bertapa berata, Mendapat pimpinan hidup.

3. Sungguh handal dalam yuda, Yudanya belum selesai, Ingin mencapai nirwana, Jadi pahlawan pertapa.

Pupuh XCVIII

1. Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa, Membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang, Menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah, Segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura.

[[MAU]] Rezeki Lancar? Lakukan 4 Hal Ini!!

Apakah Ada yang tahu datang rezeki hari ini? hanya Allah yang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang memiliki niat untuk memperbaiki diri dan selalu beristiqomah di jalan-Nya pasti rezeki akan dipermudah mendapatkannya.

Akan tetapi untuk mengundang datangnya rezeki ada banyak amal ibadah yang harus dilakukan. Khususnya ketika memulai aktivitas di pagi hari, ada 4 amalan untuk memperlancar tibanya rezeki.

1. Melaksanakan Salat Tahajud

Waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat tahajud adalah di waktu sepertiga malam.
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Ketika kalian tidur, setan membuat tiga ikatan di tengkuk kalian. Di setiap ikatan setan akan mengatakan ‘malam masih panjang, tidurlah!’ Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan, kemudian jika ia berwudhu, lepas lagi ikatan berikutnya. Selanjutnya jika ia mengerjakan shalat, lepaslah ikatan yang terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira. Jika tidak melakukan seperti ini, jiwanya jadi kotor dan malas,” (HR Bukhari).

Apabila bangun lalu melaksanakan sholat tahajud, maka akan berpengaruh pada peningkatan motivasi kerja.

Read This: Manfaat Sholat Tahajud

2. Membaca doa Pagi Hari

Berdo’a lalu berharap hanya kepada Allah semata untuk meminta apapun, memohon mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat supaya dilancarkan rezeki. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Rabb kita Tabaraka Wa Taala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata ‘Siapa yang berdoa kepadaKu, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta kepadaKu, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun kepadaKu, pasti akan aku ampuni,” (HR Bukhari dan Muslim).

Begitu juga ketika kalian ingin meminta jodoh kepada Allah, kita harus berdo’a agar mendapatkan jodoh yang baik.

Read This : Do’a Meminta Jodoh

 

3. Bersedekah di Pagi Hari

Sedekah seharusnya bisa dilakukan dalam setiap waktu, teapi akan lebih baik lagi jika dilakukan pada pagi hari. Ini disebabkan karena setiap malaikat akan mendo’akan orang yang bersedekah di pagi hari. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah berlalu pagi di setiap hari kecuali ada dua malaikat yang turun dan berdoa “ Ya Allah berikanlah ganti pada yang berinfak” Sedangkan malaikat yang satunya berdoa “ Ya Allah berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan berinfak,” (HR Bukhari dan Muslim).

 

4. Melaksanakan Salat Dhuha

Sholat dhuha memiliki banyak keistimewaan, apa sih keistimewaannya? Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Engkau membersihkan dahak yang ada dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu) maka dua rakaat dhuha sudah mencukupimu,” (HR Abu Dawud).

 

Shalat dhuha dua rakaat, maka itu setara dengan bersedekah sebanyak 360 kali yang merupakan hak dari persendi di tubuh kita. Sedangkan jika kita melaksanakan shalat dhuha empat rakat maka Allah akan menjamin rezeki kita.

Kekafiran mendekatkan manusia kepada jalan yang buruk. Bagi mereka yang memiliki iman yang lemah, kondisi ekonomi yang terhimpit akan membuat mereka lebih mudah melakukan kemaksiatan.

Oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam memerintahkan setiap umatnya untuk bekerja keras dan menghindari kemiskinan. Karena dengan memiliki rezeki yang banyak, seorang bisa membantu sesama dengan mudah, bersedekah, dan membahagian orang-orang tercinta.

Tetapi tak selamanya roda kehidupan berada diatas. Ada waktunya rezeki mampet dan menyebabkan perekonomian terganggu.

Namun ada amalan agar rezeki selalu ditambah, tidak melulu dengan hanya bekerja keras, akan tetapi melalui amal perbuatan berikut ini. Apa saja?

1. Bertaubat
2. Gemar Melakukan Sedekah
3. Belajar Menjadi Hamba Allah yang Bertaqwa
4. Mengawali Aktivitas dengan Salat Dhuha
5. Meringankan Diri Dalam Bersilaturrahmi
6. Bersyukur

Awas Jangan Lakukan Hal ini jika kalian Ingin Selamat!! >>Klik disini!!

 

[AWAS BAPER!!] Kalau Jodoh Gak Bakal Kemana-mana

PERJALANAN kisah Cinta seorang hamba sering terjadi di luar dugaan, penuh dengan kejutan dan teka-teki. Walaupun begitu, sudah semestiyan bagi kita semua untuk menerima cinta tersebut dengan lapang dada dan perasaan bahagia. Wajib kita untuk mau terbuka dengan penerimaan atau penolakan atas cinta.

Bicara tentang cinta dan jodoh, kisah menarik datang dari pasangan yang romantis bernama Daeng Fadly Soumena dan Chusnul. Pada akun sosial media pribadinya, Fadly menceritakan bahwa kisah cintanya begitu mengejutkan dan tak pernah ia duga sama sekali.

Kisah cintanya dengan Chusnul bermula pada tahun 2011 lalu di sebuah sekolah yaki di salah satu SMA di Makassar. Di sekolah tersebut ia mempelajari pelajaran agama dan salah satu materinya ialah pernikahan. Materinya ada yang berbentuk praktek dan ada pula berbentuk teori.

Ketika praktek, Fadly dan Chusnul diminta untuk berperan menjadi dua orang yang sedang melakukan akad nikah (ijab kabul). Sejak praktek itulah, keduanya mulai mengalami yang namanya jatuh cinta. Tetapi merekan dipisahkan oleh jarak sehingga mereka sering berdebat karena berbeda pendapat.

Tapi ya kalau namanya sudah jodoh, sebanyak apapun rintangan yang menghalangi, keduanya pasti bisa melewati dan menyelesaikannya dengan baik. Setelah sekian lama, beberapa waktu lalu Fadly memberanikan dirinya untuk melamar Chusnul.

Ia juga sudah memantapkan diri untuk memenangkan hati Chusnul gadis pujaannya tersebut dan membawanya naik ke pelaminan. Fadly mengatakan. “Saya percaya hasil tidak akan menghianati prosesnya. Bertarung dengan jarak, berdamai dengan masa lalu, bahkan beradu pada kesetiaan adalah alur cerita yang memberikan pelajaran berharga.”

“Silih berganti yang datang, namun tak satupun memberi titik terang. Berputar haluan dan kembali ke peraduan, menjadi jalan tepat. Keputusan menikah muda, memang bukan perkara mudah. Menikah muda bukan hanya karena saya tahu ini kesempatan yang tepat, namun lebih dari itu. Beribadah, orang tua, dan berjuang bersama adalah asa yang coba saya bangun dari sebuah pernikahan,” tambah Fadly.

Permainan Tradisional Bali Beserta Gambar , Cara Bermain dan Keterangannya

Permainan Tradisional Bali
alfilvale.blosgspot.com

Permainan Tradisional Bali Beserta Gambarnya

Permainan Tradisional Bali – Seperti yang sudah kamu ketahui bawa perkembangan teknologi kini sudah semakin cepat dan pesat, hal ini membuat orang-orang sibuk dengan gadget yang mereka miliki. Tidak hanya orang dewasa yang dipengaruhi bahkan anak-anak juga ikut terjun ke duni Internet.

Hanya dengan Internet, permainan mudah diakses dan orang tua tidak ingin pusing mengurus anaknya lalu membiarkan anaknya sibuk dengan gadgetnya masing-masing, ini penyebab utama permainan tradisional semakin jarang dimainkan dan bahkan dilupakan.

Biasanya permainan tradisional Indoneisa dimainkan di waktu sore hari oleh anak-anak, permainan tradisional banyak mengakarkan kita betapa pentingnya kerja sama kelompok, mengatur strategi dan membuat anak-anak saling bersosialisasi satu sama lain.

Bali juga memiliki permainan tradisional yang tidak kalah menariknya dengan permainan moder yang ada saat sekarang ini yang memiliki dampak negatif terhadap pola pikir dan tingkah laku anak.

Bali juga memiliki permainan tradisional yang sangat menarik dan tidak kalah dengan permainan modern seperti sekarang, dimana permainan modern banyak dampak negatif terhadap pola pikir dan kelakuan anak. Berikut ini adalah permainan tradisional dari Bali.

Permainan Tradisional Bali Metajog

Pemainan Tradisional Bali
youtube.com

Metajog merupakan sebuah alat permainan yang terdapat, nama metajog ini juga menjadi nama permainan tersebut. Untuk bermain tajog juga membuthkan keseimbangan dan kemahiran, oleh karena itu kamu harus belajar terlebih dahulu jika ingin bermain metajog.

Metajog atau titajong diamainkan dan dijadikan salah satu lomba pada peringatan hari kemerdekaan, permainan metajog memiliki persamaan dengan permainan yang berasal dari jawa barat, yaitu egrang, memiliki cara bermain dan bentuk alat yang sama, hanya nama saja yang membedakan.

Berdiri sambil berjalan di atas bambu merupakan suatu hal yang tidak mudah dan membutuhkan latihan rutin serta diikuti keinginan yang kuat untuk memainkan tajog. Hingga saat ini permainan metajog sudah sulit kita temui. Permainan jaman dulu memang sangat menyenagkan.

Permainan Tradisional Bali Meong-meongan

Permainan Tradisional Bali
alfilvale.blosgspot.com

Permainan Meongan-meongan merupakan permainan tradisional Bali yang sangat papuler di Bali. Permainan Meong-meongan sudah banyak dikenal oleh anak-anak Jawa dan tidak hanya populer dan terkenal di Bali saja.

Di daerah Jawa permainan Meong-meongan ini bernama Kucing-kucingan, sebenarnya ha ini tidak jauh berbeda karen kucing memiliki suara yang berbunyi “meong”, kamu pasti lebih mengenal permainan ini dengan nama kucing-kucingan. Permainan tradisional ini sama dengan permainan meonga-meongan, dari aturan  hingga cara bermainnya.

Permainan tradisional Bali yang satu ini membutuhkan sekurang-kurangnya 8 orang untuk memainkakan permainan ini, jika pemain lebih dari 8 orang permainan akan semakin menyenangkan. Dari 8 orang pemain tersebut akan ada 1 orang yang memiliki peran sebai tikus.

Selain tikus diperlukan juga 1 pemain lagi yang memiliki peran sebagai mong (kucing). Pemain lainnya membuat barisan berbentuk lingkaran yang ditengahnya ada pemain yang menjadi bikul (tikus). Posisi meng (kucing) di luar lingkaran, permainan dimulai dengan diiringi nyanyi, pemain yang lain harus berusaha melindungi bikul dari tangkapan si meng.

Tapi apabila lirik lagu sudah sampai pada “juk-juk meng juk-juk kul” perlindungan yang diberikan pemain lainnya kepada bikul tidak beguna lagi karena arti dari lirik nyanyi tersebut adalah “ayo tangkap tikusnya”, pada saat ini meng masuk ke dalam lingkaran dan menangkap bikul.

Bikul boleh keluar dan berlarian di luar lingkaran dan masuk sesuka hatinya, apabila bikul tertangkap oleh meng, maka bikul akan menjadi meng dan pemain lainnya menjadi bikul secara bergantian. Permainan ini sangat menyenangkan.

Permainan Tradisional Bali Megoak-goakan

Permainan Tradisional Bali
youtube.com

Permainan tradisional Bali yang lainnya adalah megoak-goakan, dalam permainan ini terdapat beberapa orang yang membentuk sebuah barisan dan saling memegang satu sama lain. Para pemain memakai ikat pinggang yang kuat dan nyaman.

Karena ikat pinggang itu nantinya akan menjadi pegangan orang yang berada di belakangnya dan nanti akan ditarik-tarik, usahakan ikat pinggang diikat dengan kuat dan nyaman agar nantinya tidak terasa sakit saat proses bermain megoak-goakan.

Dalam permainan ini dibutuhkan dua kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 5 hingga 10 orang anggota, sesuaikan dengan kondisi. Berbarislah ke belakang menyerupai ular, lalu satu pemain yang menjadi kepala berada di depan.

Pemain yang menjadi kepala memiliki tugas untuk mengamankan aggotanya dan memakan aggota yang terdapat pada kelompok lawan, jika satu kelompok mendapatkan anggota yang paling banyak akan menjadi pemenang. Permainan ini dimainkan di atas tanah yang yang digenangi air agar pemainan menjadi semakin seru dan menambah keceriaan dalam bermain.

Permainan Tradisional Bali Engkeb – engkeban

Permainan Tradisional Bali
lu-nu.blogspot.com

Engkeb-engkeban merupakan nama permainan yang sebenarnya jika nama permainan ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesi memiliki arti petak umpet, permainan engkeb-engkeban murni berasal dari Bali dan permainan ini di Bali masih dimainkan oleh anak-anak Bali.

Permainan tradisional Bali yang satu ini dimainkan oleh lima orang anak atau disesuaikan dengan jumlah pemain yang ada, jika pemain semakin banyak permainan akan semakin menarik dan menyenangkan. Di dalam permainan ini ada satu orang yang memiliki tugas mencari dan menjaga tembok, pohon, atau apapun itu untuk dijadikan tempat untuk berhitung.

Engkeb-engkeban dimainkan saat matahari masih bersinar menyinari bumi, baik itu di waktu siang maupun sore. Untuk kawasan yang diperbolehkannya kamu bersembunyi sesuai dengan kawasan yang sudah sudah ditentukan sebelum permainan dimulai. Engkeb-engkeban adalah  permainan yang sangat populer di Bali.

Permainan tradisional Bali tidak hanya engkeb-engkeban, meong-meongan, metajog dan megoak-goakan, masih banyak lagi permainan lainnya. Jawa timur, Jawa barat, dan dan daerah lainnya yang juga memiliki permainan khas daerahnya masing-masign dan yang tentunya dengan nama dan peraturan yang berbeda-beda.

Apakah Kita Boleh Berdo’a Meminta Seseorang Menjadi Jodoh Kita?

Jodoh

Jodoh

TANYA: Apakah kita bisa berdo’a meminta seseorang menjadi jodoh kita?

JAWAB: Dikutip dari konsultasisyariah.com, berdo’a memohon kepada Allah supaya diberi kemudahan untuk mendapatkan jodoh, hukumnya diperbolehkan. Termasuk juga memohon agar orang tertentu dijadikan jodoh kita. Allah memerintahkan kita berdoa dan menjanjikan kita untuk memberikan ijabah.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Allah berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku ijabahi doa kalian.” (QS. Ghafir: 60).

 

Doa ini bersifat umum, untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dulu ada sebagian ulama memohon kepada Allah semua kebutuhannya, sampai berdo’a meminta garam.

Dalam al-Mudawanah dinyatakan,

قال وأخبرني مالك عن عروة بن الزبير قال: بلغني عنه أنه قال: إني لأدعو الله في حوائجي كلها في الصلاة حتى في الملح

Ibnul Qosim mengatakan, Imam Malik pernah menyampaikan kepadaku, dari Urwah bin Zubair

“Telah sampai kepadaku berita dari Urwah, bahwa beliau mengatakan, “Saya berdoa kepada Allah untuk semua kebutuhanku dalam shalat, sampai saya meminta garam.” (al-Mudawwanah, 1/192).

Hanya saja, perlu kita pahami bahwa tidak semua doa Allah wujudkan sebagaimana yang diminta hamba-Nya.
Terkadang Allah simpan menjadi pahala yang nantinya akan diberikan ketika di hari kiamat. Dan terkadang Allah wujudkan dalam bentuk Allah selamatkan dia dari musibah, yang senilai dengan doa yang dia minta.

Dari Abu Said al-khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا

“Setiap muslim yang berdoa kepada Allah – selama bukan doa yang mengandung dosa atau memutus silaturahmi – pasti akan Allah ijabahi permohonannya dengan salah satu dari 3 bentuk:

[1] Allah segerakan doanya, atau
[2] Allah simpan doanya untuk diberikan ketika di akhirat, atau
[3] Allah selamatkan darinya musibah yang semisal dengan apa yang dia minta.”
(HR. Ahmad 11133 dan dihasankan oleh Syuaib al-Arnauth).

Karena itu, apabila Allah menakdirkan Anda menikah dengan pasangan yang Anda idamkan, Alhamdulillah, dan perbanyaklah memuji Allah. Akan tetapi jika yang terjadi sebaliknya, Anda tidak ditakdirkan untuk menikah dengan orang yang anda idamkan, janganlah Anda berputus asa, apalagi muncul pikiran bahwa Allah mendzalimi Anda. Do’a anda tidak akan disia-siakan.

Bisa jadi Allah tidak mewujudkan sesuai dengan yang kita minta, tapi Allah wujudkan pada bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi Anda dan lebih membuat Anda bahagia. Anda haru selalu mendahulukan sikap ridha dalam menerima menghadapi takdir yang diberi Allah.

Sebagian ulama menyarankan, berdo’a untuk meminta kebaikan yang bersifat lebih umum. Contohnya memohon kepada Allah supaya diberi pasangan yang baik untuk dunia dan akhirat, suami yang soleh atau istri yang solihah. Karena keterbatasan pandangan kita, bisa saja kita cepat menganggao bahwa si dia yang anda do’akan adalah yang terbaik bagi Anda. Tapi ingat, Anda tidak mengetahui masa depan dan Anda tidak mengetahui apa yang tersembunyi.

Pasrahkan pilihan yang terbaik itu kepada Allah, dan yakini, Allah memberikan yang terbaik untuk dunia dan akhirat Anda.

Allah befirman,

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)

Dan jangan lupa untuk shalat istikharah. Memohon pilihan kepada Allah.

Sumber : Islampos

Dosen ITB Hilang Usai Mengantar Ibunya..Kok Bisa?

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Suryo Utomo (30 tahun) dilaporkan hilang usai mengantarkan ibunya ke Terminal Leuwipanjang dengan tujuan Bogor pada Rabu (10/5/2017).

Istri Suryo, Ratna Oktiviani kemudian melaporkan hilangnya korban ke Polrestabes Bandung pada Kamis (11/5/2017).

“Sudah diterima laporannya dan saat ini sedang pencarian oleh tim,” ujar Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo, melalui pesan singkatnya, Kamis (11/5/2017) seperti dilansir Antaranews.

Hendro menuturkan dari hasil penelusuran tim serta dari ciri-ciri kendaraan yang ditumpangi, didapati informasi bahwa mobil Suryo sempat terlacak di daerah Cianjur.

“Mobilnya ditemukan di Jalan Ciranjang, namun korban masih dalam pencarian,” katanya.

Dari hasil pemeriksaan pelapor, Suryo diketahui memiliki ciri-ciri menggunakan kacamata, tinggi badan sekitar 170 cm, berat badan 65 kg, kulit sawo matang, dan berambut pendek hitam.

Saat pergi, Suryo menggunakan baju polo hitam dengan menggunakan celana jeans berwarna biru.

Sebelum menghilang, Suryo menggunakan mobil F 1031 DC, berangkat dari kediamannya di Jalan Sangkuriang, ke terminal bus Leuwipanjang, Kota Bandung.

Saat itu, ia akan mengantarkan ibunya Ika Rini Astuti ke Bogor.

Usai mengantarkan ke Terminal Leuwi Panjang, pihak keluarga kehilangan kontak dengan Suryo. Karena tidak kembali pulang hingga keesokan harinya, istrinya kemudian melaporkan kasusnya ke polisi.

25+ Permainan Tradisional Indonesia Beserta Asal dan Cara Bermainnya

Macam-macam Permainan Tradisional yang Berada di Indonesia dan Cara Bermainnya

Permainan Tradisional Indonesia – Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam budaya, agama dan bahasa yang, tidak hanya itu Indonesia juga merupakan negara yang memiliki keindahan alam yang menakjubkan beserta rempah-rempah dan flora dan faunanya.

Indonesia memiliki permainan tradisional sendiri yang berasal dari berbagai daerah dengan jumlah tidak bisa dibilang sedikit. Permainan tradisional ini termasuk kedalam ciri khas tersendiri bagi Indonesia dibandingkan dengan nega lain. Tapi sayang, seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi permainan tradisional lama-kelamaan mulai mengalami kepunahan dan jarang dimainkan.

Permainan tradisional menjadi kenangan bagi kamu yang lahir di era 90-an dan hanya sebagian anak yang memainkan permainan ini. Untuk mengenang dan menghidupkan kembali permainan tradisional agar bisa terus dimainkan oleh anak-anak sekarang, mari kita bahas bersama permainan tradisional yang ada di Indonesia.



25+ Macam Permainan Tradisional Dari Indonesia

1. Permainan Tradisional ABC Lima Dasar di Indonesia

Permainan Tradisional Indonesia
dagelan.co

Apakah kamu pernah bermain permainan yang satu ini? Atau pernah tau dengan permainan ini? Nama permainan tradisional ini diambil dari cara bermainnya, karena kamu memakai ke lima jari untuk bermain ABC-an. Permainan tradisional ini tidak membutuhkan alat apapun karena hanya menggunakan jari-jemari yang diciptakan oleh Tuhan sebagai sarana perhitungan abjad.

Permainan ini biasanya dimainkan oleh tiga hingga lima orang, jika semakin banyak yang bermain akan permainan juga akan semakin seru. Cara untuk memainkannya mudah, kamu dan teman-temanmu perlu menyetujui nama-nama yang nantinya akan menjadi tema dalam permainan tradisional ABC lima dasar.

Setelah itu kumpulkan jari kamu dan jari teman-teman kamu, setelah terkumpul tentukan tema yang akan dimasukkan, lalu dari semua jari teman-temanmu mulai berhitung dengan huruf alfabet. Contonhnya dari semua jari teman-temanmu keluar ada 4 jadi huruf keempat alfabet adalah “D” nah huruh “D” ini akan menjadi huruf dari bagian tema yang huruf awalnya “D”.

Jika ada pemain yang menjawab paling akhir atau ada yang tidak bisa menjawab akan mendapatkan hukuman yang sudah disepakati sebelum permainan dimulai. Permainan ini dapat mempercepat kinerja berfikir otak.

2. Permainan Tradisional Benteng di Indonesia

permainan tradisional
kamarbelajar.com

Permainan Bentengan atau benteng-bentengan merupakan permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak pedesaan dan merupakan permainan favorit bagi anak tahuun90-an teruatama anak laki-laki, karena permainan ini secara tidak langsung mengajarkan strategi perang dan kesigapan dalam menangkap dan menghindar dari musuh.

Sayangnya permainan tradisional ini kini sudah jarang  dimainkan oleh anak-anak negeri. Permainan ini membutuhkan kerja kelompok ini sudah tenggelam dalam kemajuan teknologi, dimana hal itu membuat anak-anak lebih memilih bermain di rumah tanpa mengenal lingkungannya.

Sejarah Permainan Tradisional Bentengan

Permainan ini sudah ada sejak zaman dahulu, tepatnya pada masa Indonesia berhasil melarikan diri dari para penjajah dan menyatakan kemerdekaan, yang pada masa itu Indonesia semakin bangkit.

Berbagai sumber mengatakan permainan tradisional bentengan ini menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia pada masa melawan para penjajah, karena permainan ini membutuhkan strategi dan perjuangan.

Permainan ini akan dimenangkan jika salah satu kelompok berhasil merebut atau menyentuh benda yang dijadikan sebagai benteng oleh kelompok lain atau musuh. Nama permainan tradisional bentengan diambil dari nama markas yang dulunya dikenal dengan sebutan benteng.

Peraturan dan Cara Bermain 

  1. Pemain yang ikut dibagi menjadi dua kelompok, setiap kelompoknya beranggota 4 hingga 5 orang.
  2. Setiap kelompok harus memiliki benda yang akan digunakan sebagai benteng, benda tersebut bisa terbuat dari bambu, tiang, batu bata ataupun dari tiang.
  3. Setiap kelompok harus memiliki wilayah kekuasaan yang sudah ditentukan yang disepakati sebelum permainan dimulai.
  4. Pemain yang memasuki wilayah kekuasaan kelompok lawan lalu disentuh oleh pemian lawan akan ditahan/disandra di sebelah benteng lawan dengan jarak 3 hingga 5 meter.
  5. Jika ada teman sekelompoknya yang menyentuhnya kembali maka pemain itu lolos dari tahanan dan kembali bermain.
  6. Jika ada ada yang berhasil menyentuh benteng lawan tanpa terkena sentuhan dari pemain lawan maka kelompoknya menjadi pemenang.
  7. Skor permainan bisa ditentukan sesuai kesepakatan sebelum permainan dimulai.

3. Permainan Tradisional Balap Karung di Indonesia

permainan tradisional
ulinulin.com

Balap karung merupakan permainan tradisional yang sangat populer hingga sekarang dan masih sering dimainkan apalagi saat peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Permainan ini sering dimainkan oleh semua kalangan umur, mulai dari anak-anak hingga orang yang sudah tua.

Permainan Tradisional ini sudah dikenal diseluruh Indonesia, mulai dari Sabang, Aceh, Sumatera Barat, Palembang, Jawa hingga Papua.

Sejarah Permainan Tradisional Balap Karung

Kamu perlu mengetahui kalau permainan tradisional ini sudah ada sejak dahulu dan bahkan ada yang mengatakan bahwa permainan ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda terhadap Indonesia.

Perlu kamu ketahui bahwa permainan ini sudah ada sejak dahulu bahkan ada yang mengatakan permainan ini ada sejak zaman Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Permainan ini dibuat oleh misionaris Belanda yang biasanya digelar saat ada acara-acara perayaan Belanda.

Dari dulu permainan ini sangat sering sering dimainkan oleh anak sekolahan yang masih berumur 6-12 tahun, dan menjadi populer dan sering juga dimainkan oleh anak-anak desa. Di Indonesia ini sering dimainkan pada saat peringatan acara-acara tradisional, awalnya permainan tradisional hanya dimainkan oleh anak-anak desa, tapi semakin lama permainan ini menyebar ke seluruh pelosok negeri.

Peraturan dan Cara 

  1. Buat garis awal dan akhir berjarak 7 hingga 10 meter.
  2. Kenakan karung hingga menutupi semua bagian kaki.
  3. Saat permainan dimulai, melompatlah dengan cepat hingga mencapai garis akhir.
  4. Pemenang dalam permainan ini adalah yang pertama sampai ke garis akhir.
  5. Peserta pemain balap karung terdiri dari 3 hingga 6 orang.
  6. Permainan bisa dimainkan dengan kerjasama tim atau sendirian.

4. Permainan Tradisional Boi-boian di Indonesia

Permainan Tradisional
keepsoh.com

Boi-boian merupakan permainan tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa, namun kini sudah jarang dan sulit ditemukan dimainkan oleh anak-anak pedesaan apalagi perkotaan. Permainan tradisional ini memerlukan ketepatan dan kecepatan dalam memainkannya.

Sejarah Permainan Tradisional Boi-boian

Permainan tradisional ini sudah ada sejak dahulu, tidak ditemukan sumber kepastian yang mengatakan awal keberadaan dan asal-usul permainan ini, pastinya permainan ini sudah menjadi permainan tradisional Indonesia.

Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak yang tinggal di pedesaan pada sore hari setelah shalat ashar dan dimainkan oleh anak perempuan dan laki-laki, permainan ini dimainkan sebagai media penghibur pada waktu kosong.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini terdiri dari dua kelompok yang masing-masingnya beranggota 4 hingga 5 pemain.
  2. Permainan ini biasanya menggunakan pecahan keramik atau genting yang disusun ke atas.
  3. Selain menggunakan pecahan keramik, permainan ini juga menggunakan bola kasti, jika tidak ada bola kasti bisa diganti dengan membuat bola dari kertass yang dibentuk menjadi bulatan padat dan diikat dengan karet gelang.
  4. Tim pertama betugas menyusun pecahan keramik dan tim kedua bertugas menghancurkan genting dengan melemparkan bola kasti atau bola kertas.
  5. Permainan diawali dengan menghancurkan genting dengan melemparkan bola ke arah genting yang sudah disusun dengan cara menggelindingkan.
  6. Apabila susunan keramik hancur maka tim yang menyusun bertugas kembali menyusun keramik sambil menghindari bola yang terus dilemparkan ke arahnya.
  7. Jika pemain yang menyusun keramik kena bola maka ia akan gugur dan jika tim penghancur tidak mengenai sasaran keramin maka ia akan gugur.
  8. Permainin akan berakhir jika susunan keramik kembali tersusun atau pemain yang berada di salah satu tim gugur.
  9. Setelah itu tugas kelompok akan bergantian.

5. Permainan Tradisional Bola Bekel di Indonesia

Permainan Tradisional
keepsoh.com

Bola beklen atau bekel berasal dari Jawa barat dan termasuk ke dalam permainan tradisional dari Indonesia, karena sudah sering dimainkan dari daman dulu, permainan ini merupakan permainan favorit bagi anak perempuan. Permainan ini membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Sejarah Permainan

Permainan tradisional bekel berasal dari Jawa Barat dan ada juga yang mengatakan dari Jawa Timur. Sebelumnya permainan ini hanya dijadikan sebagai kegiatan untuk mengisi wak tu kosong, tapi semakin lama permainan ini dijadikan hiburan bagi anak-anak pedesaan khususnya bagi anak perempuan.

Sama halnya dengan permainan boi-boian, permainan ini tidak memiliki catatan asal-usul, tetapi walaupun begitu permainan ini masih bisa kita jumpai hingga saat ini meskipun sudah jarang.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Alat yang dibutuhkan dalam permainan ini yaitu bola bekel serta biji kuwuk.
  2. Pemain terdiri dari 3 hingga 5 orang.
  3. Duduk dan buat lingkaran dan letakkan bola bekel dan kuwuk di tengah, pemain bisa memainkannya di tengah atau di depan.
  4. Permainan akan dimulai oleh satu orang dan yang lainnya mengamati pemain, apabila pemain melanggar peraturan, pemain akan berganti untuk memainkannya.
  5. Sebelum permainan dimulai peraturan sudah disepakati.
  6. Genggam biji kuwuk lalu pegang bola bekel memakai jari telunjuk dan ibu jari, dipegang menggunakan satu tangan yang sama.
  7. Setelah itu lemparkan bola bekel ke atas dan jatuhkan semua biji kuwuk, setelah bola bekel memantul tangkap kembali bola bekel.
  8. Lempar kembali bola bekel ke atas, sebelum bola bekel memantul lagi ambillah satu biji kuwuk dan tangkap kembali bola bekel.
  9. Lakukan hal itu terus hingga biji kuwuk sudah habis diambil semua, lalu dibabak berikutnya ambil dua biji kuwuk dalam satu lemparan, dan begitu seterusnya.

6. Permainan Tradisional Congklak di Indonesia

Permainan Tradisional
riauberbagi.blogspot.co.id

Congklak, permainan tradisional yang satu ini sudah banyak yang mengetahui karen permainan ini memilki daya tarik tersendiri yang berasal dari bentuk papan congklak. Selain itu, permainan ini dimainkan dengan duduk sambil bersantai dan tidak akan membuat mengeluarkan keringat.

Sejarah Permainan

Menurut para Arkeologi dan para ahli berpendapat dan myakini bahwa permainan tradisional congklak ini berasal dari negara timur tengah dan menyebar ke Benua Afrika dan setelah itu penyebarannya memasuki kawasan Benua Asia. Permainan ini sangat dikenal dan begitu populer di Indonesia karena bangsa bangsa Arab masuknya ke Indonesia.

Dengan masuknya bangsa Arab yang bertujuan berdagang, menikahi pribumi dan menetap. Papan congklak memiliki lubang yang berjumlah 16 lubang, terdiri dari tujuh lubang kecil dan lubang besar yang menjadi tujuan dan masing-masing pemain memiliki satu lubang besar.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini dimainkan oleh dua orang pemain.
  2. Alat yang digunakan untuk bermain adalah papan congklak dan biji congklak.
  3. Di setiap lubang berisi 7 biji congklak, terdapat 49 biji congklak yang dibagi ke dalam 14 lubang.
  4. Tentukan siapa yang bermain terlebih dahulu dengan melakukan suit.
  5. Pemain yang mulai pertama membagikan biji congklak yang terdapat di daerahnya, pilih salah satu lubang untuk dibagikan pada setiap lubang kecil dan satu lubang besar yang dimiliki.
  6. Bagilah dengan cara mengelilingi setiap melewati lubang dengan mengisi satu biji congklak.
  7. Lakukan hal itu hingga biji congklak habis, apabila sudah habis maka giliran akan berganti dengan pemain lain.

7. Permainan Tradisional Cak bur/Gobak Sodor di Indonesia

Permainan tradisional
dnindahsari.blogspot.com

Permainan ini sudah begitu dikenal dan populer di Indonesia permainan ini dikenal juga dengan nama Cak bur. Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak daerah Riau dan Sumatera Barat, bahkan hingga saat sekarang permainan tradisional ini dijadikan permainan untuk perlombaan.

Permainan memerlukan kecepatan dan strategi dalam melewati musuh serta menangkap musuh, permainan ini juga menjadi permainan yang sangat digemari oleh anak laki-laki hingga perempuan.

Sejarah Permainan

Berdasarkan nama dari permainan ini terdiri dari dua kata, yaitu kata gobak dan sodor, gobak mempunyai arti bergerak dan sodor memiliki arti tombak. Pada zam dulu prajurit Indonesia memainkan permainan ini.

Para prajurit memainkan permainan ini sebagai media latihan untuk bertempur dengan penjajah, dahulu ada permainan yang bernama sodoran yang memiliki arti tombak yang ujungnya tumpul.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Bentuklah dua kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4 hingga 5 orang.
  2. Setiap memiliki memiliki tugas, ada yang bertugas menjaga dan ada juga yang menerobos.
  3. Kelompok yang menjaga memiliki tugas mengawasi laju kelompok lawan untuk tidak bisa lolos dan jika salah anggota lawan yang menerobos tersentuh maka tugas akan berganti.
  4. Permainan ini membutuhkan tempat yang luas.
  5. Kelompom yang memiliki tugas menjaga berada diposisi paling depan dan dapat berlari mengikuti garis vertikal yang berada di tengah lapangan.
  6. Pemain akan bolak balik untuk meloloskan diri dari penjaga.
  7. Pemenang dari permainan ini adalah kelompok yang memiliki poin terbanyak.

8. Permainan Tradisional Engklek di Indonesia

Permainan tradisional
Youtube.com

Engklek merupakan salah satu permainan tradisional yang begitu populer di Indonesia, permaian ini biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Di Sumatera Barat permainan ini dikenal dengan nama Tapak rok.

Sejarah Permainan

Ada beberapa pendapat yang membahas mengenai sejarah permainan ini, pendapat pertama mengatakan bahwa permainan ini berasal dari Inggris karena ditemukan beberap bukti tentang keberadaan permainan engklekan.

Adapun pendapat kedua mengatakan permainan ini sudah ada sejak abad ke-17 dan sudah dikenal di Romawi. Di Indonesia permaian ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini membutuhkan gambar petak pada tanah atau pada permukaan bumi.
  2. Peraturan permainan ini disesuaikan dengan bentuk petak yang sudah digambar.
  3. Permainan ini bisa dimainkan oleh 3 orang atau lebih.
  4. Pemenang yang memenangkan permainan ini adalah pemain yang memiliki banyak petak setelah melewati tahapan permainan.
  5. Permainan ini membutuhkan waktu yang yang lama.
  6. Permainan ini menggunakan satu kaki pada setiap petak yang akan dilewati kecuali yang terdapat dua petak.

9. Permainan Tradisional Egrang di Indonesia

Permainan tradisional
mentaokalas.wordpress.com

Egrang merupakan permainan tradisional yang berasal dari Jawa Barat (Sunda). Egrang sampai saat ini masih bisa kita temui, namun hanya sedikit orang yang bisa memainkan permainan ini, karena alat yang diproduksi hanya sedikit.

Egrang juga sering dimasukkan ke dalam perlombaan dalam acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus, permainan ini menguji keseimbangan tubuh karena berdiri diatas bambu.

Sejarah Permainan

Sejarah permainan tradisional ini tidak begitu diketahui oleh masyarakat luas karena memang pada kenyataannya sejarah permainan ini simpang siur dan belum ada kejelasan yang pasti.

Egrang merupakan permainan yang memakai alat yang terduru dari 2 batang bambu, masing-masing bambu tersebut memiliki ukuran 4 hingga 5 meter, dan memiliki pijakan yeng terdapat dibagian bawah bambu yang berukuran sekitar 50cm.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini membutuhkan 1 batang bambu yang berpasangan.
  2. Permainan dimainkan oleh 2 orang atau lebih.
  3. Siapa yang cepat atau duluan mencapai garis finish dialah yang menang.
  4. Dalam permainan ini sangat dibutuhkan keseimbangan dan kecepatan dalam melangkah.

10. Permainan Tradisional Gasing di Indonesia

Permainan tradisional
evasbp.blogspot.com

Gasing atau dikenal juga dengan nama gangsing merupakan permainan tradisonal yang sudah ada sejak dahulu di Indonesia, permainan ini merupakan permainan favorit bagi anak laki-laki.

Sejarah Permainan

Terdapat perbedaan pendapat mengenai sjarah permainan tradisional ini, terdapat dua pendapat yang kuat terhadap sejarah permainan ini.

Pendapat yang pertama mengatakan bahwa gasing pada mulanya merupakan telur ayang tidak sengaja terputar dan pada akhirnya menjadi kesenangan tersendiri untuk mengadu dan berputar dengan waktu yang lama. Pendapat kedua mengatakan permainan gasing ini awalnya adalah buah yang berembang.

Buah yang memiliki bentuk tidak terlalu lonjogn dan bulat sehingga buah ini dapat diputar. Buah ini bisa kita temui di sepanjang tepian pantai, karena buah ini tida bisa bertahan lama, maka muncullah ide untuk menciptakan replika dari bentuk buah yang terbuat dari batang pohon bambu.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini pastinya membutuhkan lat yang bernama gasing.
  2. Gasing dimainkan di tempat yang datar.
  3. Buat lingkaran yang menjadi acuan gasing diadu.
  4. Gasing yang masih bertahan di dalam lingkaran paling lama adalah pemenangnya.
  5. Permainan ini biasanya dimainkan oleh dua orang atau lebih.

11. Permainan Tradisional Gatrik di Indonesia

Permainan tradisional
infobandung.co.id

Gatrik merupakan permainan tradisional yang memakai media dua batang bambu yang tipis yang memiliki panjang 30cm dan 15cm. Selain itu permainan ini memakai dua batu bata sebagai penunjang bambu. Gatrik dimainkan di lapangan yang terbuka dan memiliki permukaan yang datar agar memudahkan menangkap bambu.

Sejarah Permainan Tradisional Gatrik

Permainan tradisional gatrik termasuk permainan favorit bagi anak laki-laki, pada masanya permainan ini juga pernah menjadi permainan tradisional yang populer.

Tidak ada sejarah yang menceritakan awal permainan gatrik ini, tapi yang pasti permainan ini sudah ada sejak dulu di Indonesia. Sekarang sudah sangat jarang anak yang bermani permainan ini. Permainan tradisional ini menggunakan du buah bambu dan bongkahan batu bata.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini terdiri dari dua kelompok, setiap kelompok beranggotakan 3 hingga 4 orang.
  2. Permainan tradisional ini  membutuhkan lahan yang luas karena.
  3. Setiap kelompok mempunyai tugas, salah satu kelompok bertugas melempar batang bambu dan kelompok satunya lagi menangkap batang bambu yang sudah dilemparkan.
  4. Apabila batang bambu berhasil ditangkap maka tugas akan berganti.
  5. Permainan akan dimenangkan oleh kelompok yang memiliki banyak poin.

12. Permainan Tradisional Kasti di Indonesia

Permainan tradisional
blajar.co.id

Permainan tradisional yang satu ini memang bukan permainan asli dari Indonesia, tapi permainan ini sudah ada lam dan termasuk juga permainan yang sering dimainkan anak negeri.

Sejarah Permainan Tradisional Kasti

Permainan kasti sudah ada sejak masa penjajahan, tepatnya sejak Belanda dan Jepang menjajah Negara kita Indonesia, pada zaman dahulu permainan ini hanya bisa dinikmati oleh anak-anak bangsawan saja.

Anak-anak bangsawan mendapatkan keuntungan, mereka mendapatkan pendidikan di sekolah, karena permainan ini hanya dimainkan di sekolah. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus tahun 1945, permainan ini bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan terbagi menjadi dua kelompok
  2. Satu kelompok memiliki tugas menjaga dan kelompok lainnya bertugas memukul.
  3. Setiap anggota yang dibentuk terdiri dari 5 orang atau lebih.
  4. Setelah bola terpukul, kelompok yang bertugas memukul bola langsung berlari mengitari lapangan.
  5. Pemain yang lari harus melindungi setiap pos-pos.
  6. Apabila pelari kena bola, maka kelompoknya akan gugur dan ganti tugas.

13. Permainan Tradisional Kelereng di Indonesia

Permainan tradisional
youtube.com

Kelereng atau gundi merupakan permainan tradisional yang terbuat dari kaca dan merupakan permainan tradisional yang sangat populer. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, karena permainan ini membuthkan skill.

Sejarah Permainan Tradisional Kelereng

Permainan tradisional ini merupakan permainan yang sudah ada sejak masa penjajahan, tidak hanya Indonesia yang memainkan permainan ini, negara lain seperti Prancis juga menjadikan permainan ini sebagai permainan yang populer.

Permainan ini awalnya menyebar melaluli Prancis dan menyebar ke negara Mesir hingga ke Yunani. Dan kini permainan kelereng sudah dikenalkan oleh orang-orang Romawi.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan tradisional ini membutuhkan dua pemain atau lebih.
  2. Permainan ini memiliki macam cara memainkannya dan juga memiliki peraturan yang berebeda-beda di setiap jenis permainan.
  3. Kelereng biasanya dimainkan di permukaan yang datar.

14. Permainan Tradisional Layang-layang di Indonesia

Permainan tradisional
keepsoh.com

Layang-layang merupakan permainan yang sangat menyenangkan, permainan ini sering dimainkan oleh anak pedesaan, biasanya layangan di pedesaan hanya berbentul ketupat. Kini Layangan sudah menjadi permainan yang populer dan sudah dikenal oleh negara lain.

Sejarah Permainan Tradisional Layang-layang

Permainan tradisional ini sudah ada di Cina sebelum 2500 SM. Di Indonesia permainan tradisional ini di temukan di awal abad ke-21, penemuan ini dibuktikan dengan ditemukannya lukisan yang teradapat di gua Pulau Muna provinsi Sulawesi Tenggara.

Awal mula dari permainan layang-layang di Indonesia ada yang berpendapat sudah ada sejak abad ke-17, hali ini berasal dari catatan sejarah melayu mengenai kerajaan yang mengikuti fstival layang-layang.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini tentunya membutuhkan ruangan terbuka, seperti lapangan terbuka yang memiliki angin yang mnunjang untuk bermain layangan.
  2. Pada umunya layangan terbuat dari kertas atau plastik dan memiliki kerangka yang terbuat dari bambu panjang yang tipis dan benang.
  3. lihat keadaan cuaca, jangan terbangkan layangan saat angin sedang kencang dan cuaca sedang ekstrem.
  4. Terbankan layangan saat angin tenang.
  5. Setelah layang sudah kelihatan tinggi, akan lebih seru layangan diadu dengan layangan lainnya.
  6. Untuk mengadu layangan kamu membutuhkan benang/senar yang tajam.
  7. Biasanya di setiap permainan layangan ada yang mengejar layangan saat layangan putus karen kalah dalam aduan. Layangan akan dikejar bersama-sama dan saling berebutan.

15. Permainan Tradisional Lenggang Rotan di Indonesia

Permainan tradisional
keepsoh.com

Lenggang rotan atau sering juga kita kenal dengan nama hula hoop, merupakan permainan yang mewajibkan kamu menggoyangkan tubuh terutama bagian tubuh pinggang dan perut.

Permainan ini bisa menyehatkan tubuh dan menyenangkan, hal itu membuat permainan ini menjadi populer. Permainan ini dimainkan berujuan sebagai hiburan saja, tapi sering juga dimasukkan ke dalam perlombaan unutk mengadu lama bertahan.

Sejarah Permainan Tradisional Lengang Rotan

Keberadaan permainan ini sudah tidak perlu kita pertanyakan lagi, permainan ini sudah ada sejak lama sekitar 3 abad yang lalu. Hula hoop merupakan nama lain dari lenggang rotan yang sudah populer di dunia.

Permainan ini awalnya hanya dimainkan oleh anak-anak yang berasal dari Mesir dan Yunani kuni, namun sekarang hulahop sudah dimainkan oleh anak-anak negara lain dan juga dimainkan oleh orang dewasa, permainan ini dipercaya bisa menjaga kesehatan tubuh.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Satu orang menggunakan/memainkan satu hula hoop.
  2. Permainan ini mengutamakan kelamaan dalam mempertahankan menggunakan hula hoop.
  3. Masukkan hula hoop kedalam tubuh lalu goyangkan pinggang agar tidak terjatuh, apabila jatuh maka kamu dianggap kalah.
  4. Sedangkan yang lama mempertahankan hula hoop dibagian pinggang/perut adalah pemenang.

16. Permainan Tradisional Lompat Tali di Indonesia

Permainan tradisional
flowryadnijannatia.upi.edu

Permainan tradisional lompat tali merupakan permainan yang terbuat dari karet gelang, keret gelang dihubungkan dengan cara mengikatnya hingga membentuk panjang. Permainan ini pada umumnya sering dimainkan oleh anak-anak perempuan. Tali dari karet gelang yang digunakan adalah karet gelang yang belum matang.

Sejarah Permainan Tradisional Lompat Tali

Permainan tradisional ini sudah ada sejak Belanda masih menjajah Indonesia, pada awalnya permainan ini hanya dimainkan oleh anak-anak Belanda yang berada di Indonesia.

Ada juga yang berpendapat kalau asal permainan tradisional ini berasal dari Benua Eropa yang kemudian menyebar ke benua-benua lainnya termasuk ke benua Asia Tenggara tepatnya di Indonesia.

Beberapa pendapat lain juga mengatakan bahwa permainan ini berasal dari Cina, Mesir, Australia dan negara lainnya, tidak ada kejelasan yang pasti mengenai sejarah permainan tradisional satu ini.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Pemain dalam permainan ini sebanyak 3 orang atau lebih.
  2. 2 orang sebagai pemegang ujung tali dan lainnya melompati karet.
  3. Permainan dimulai dengan ketinggian karet dari mata kaki hingga kepala bahkan sampai tangan dingkat ke atas.
  4. Jika ketinggian sudah mencapai bagian daa, pemain diharuskan meompat tanpa menyentuh karet.
  5. Apabila pemain menyentuh karet atau terjerat oleh karet maka pemain itu akan gugur dan digantikan oleh pemegang karet.
  6. Jika semua tantangan lopatan terakhir berhasil dilewati oleh semua pemain maka permainan akan diulang dari awal, jika sudah lelah lebih baik pulang bantu orang tua…hehe

17. Permainan Tradisional Masak-masakan di Indonesia

Permainan tradisional
dewirieka.com

Permainan masak-masakan juga termasuk ke dalam permainan tradisional yang sangat sulit ditemukan pada saat ini, permainan tradisional yang satu ini biasanya hanya dimainkan oleh anak-anak perempuan, tetapi juga kadang dimainkan oleh anak laki-laki (contonhnya ane).

Permainan ini biasanya menggunakan bahan dari alam yang terdapat di sekitar, seperti dedaunan, tanah dan batu bata yang sudah dihancurkan.

Sejarah Permainan tradisional masak-masakan 

Permainan ini tidak memiliki catatan sejarah yang jelas mengenai asal mulanya, akan tetapi bisa dipastikan kalau keberadaan permainan ini sudah ada sejak dulu.

Biasanya permainan ini dimainkan sebagai pengisi waktu luang, dahulu wanita belum bebas melakukan kegiatan dan hanya berada di dala rumah.

Peraturan dan Cara Bermain masak-masakan

  1. Semua bahan yang digunakan bersifat alami tapi tidak bisa dimakan.
  2. Permainan ini digunakan sebagai sarana pengisi waktu luang dan menghibur diri.
  3. Peralatan yang digunakan biasanya dibuat dari plastik dan berukuran kecil tapi ada juga yang menggunakan peralatan seperti aslinya.

18. Permainan Tradisional Ngadu Muncang di Indonesia

Permainan tradisional
ukurbumi.blogspot.co.id

Ngadu muncang adalah permainan tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa barat. Umumnya permainan ini dimainkan oleh anak laki-laki, dahulu permainan ini menjadi permainan yang yang favorit dan apabila kamu menang dalam permainan ini kamu pasti akan merasa senang.

Baca Juga: Papan Bunga Pekanbaru

Sejarah Permainan Tradisional Ngadu Muncang

Kini banyak permainan yang sudah hilang jejak dan catatan sejarahnya, salah satunya permainan ngadu mincang. Permainan tradisional ini menjadi permainan yang disukai dan dimainkan pada musimnya saja.

Tapi ada sedikit keterangan mengenai sejarah ngadu muncang ini, pada masa kerajaan sunda, ngadu muncang diajdikan alat untuk memperlihatkan keasktian. Dari keterang tersebut dapat kita simpulkan bahwa permainan ini sudah ada sejak masa kerajaan.

Peraturan dan Cara Bermain Ngadu Muncang

  1. Permainan pastinya membutuhkan 2 biji muncang yang nantinya akan diadu.
  2. Letakkan satu biji di bagian bawah dan satunya lagi dibagian atas, setelah itu pukul bagian atas guna memastikan siapa yang pecah.
  3. jika biji muncang yang berada di bawah tidak pecah, maka biji yang di bawah tadi dipindah ke atas dan biji yang di atas dipindah ke bawah.
  4. Jika biji muncang pecah maka pemiliki biji muncang kalah.

19. Permainan Tradisional Nama Kasti di Indonesia

Permainan tradisional
media.viva.co.id/

Nama kasti bukanlah yang tidak begitu populer di Indonesia, permainan ini mungkin memiliki cara bermain yang sama tapi nama dari permainan ini berbeda-beda sesuai pemahaman dari orang orang melihatnya. Permainan tradisional nama kasti kebanyakan dimainkan oleh anak laki-laki.

Sejarah Permainan Tradisional Nama Kasti

Permainan tradisional yang satu ini tidak memiliki kejelasan sejarah yang pasti, yang jelas permainan ini adalah permainan tradisional yang sejak dulu turun menurun yang diwarisi oleh nenek moyang. Permainan tradisional kasti membutuhkan ketepatan dalam melempar dan kecepatan dalam mengindar.

Peraturan dan Cara Bermain Kasti

  1. Permainan ini setidaknya memerlukan sekurang-kurangnya enam orang.
  2. Yang pasti permainan ini membutuhkan bola kasti dan kapur untuk membuat kotak sesuai dengan jumlah pemain dan setiap kotak tertulis satu nama orang.
  3. Pemain bermain secara bergantian untuk melempar atau menggelindingkan bola kasti, apabila bola kasti berhenti pada satu kotak, maka nama yang tertulis pada kotak tersebut menjadi kucing.
  4. Pemain yang menjadi kucig bertugas melemparkan bola untuk mengenai pemain lain, jika bola kasti mengenai pemain lain atau pemain yang menjadi kucing melempar tidak mengenai pemain, maka akan mendapatkan poin.
  5. Apabila poin sudah mencapai batas yang sudah disepakati, maka pemain tersebut akan mendapatkan hukuman yang telas disepakati.

20. Permainan Tradisional Petak Umpet di Indonesia

Permainan tradisional
nyoozee.com

Petak umpet merupakan permainan yang sudah melegenda, karena permainan ini tidak hanya terdapat di Indonesia tapi di juga ada di bagian dunia yang memiliki permainan yang sama, tetapi memiliki penamaan yang beda.

Sejarah Permainan Tradisional Petak Umpet

Pada abad ke-2 masehi ditemukan sebuah krya tulisan yang diketahui milik seseorang yang berasal dari Yunanai, di dalam tulisannya ia menuliskan mengenai suatu permainan yang mirip dengan petak umpet. permainan ini dimainkan oleh semua anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Permainan tradisional petak umpet yang pasti sudah ada sejak lama di Indonesia walaupun tidak memiliki catatan yang kurang baik dan awal adanya permainan ini dari negara dan siapa yang memulai.

Peraturan dan Cara Bermain Petak Umpet

  1. Permainan ini minimal dimainkan oleh 3 orang atau lebih.
  2. Petak umpet merupakan jenis permainan yang memiliki berbagai macam jenis dan pada setiap jenisnya memiliki peraturan yang berbeda.
  3. Di permainan ini ada satu orang yang bertugas menjaga dan mencari, dan pemain lannya mengumpat.
  4. Sebelum mencari tempat mengumpat diberikan waktu untuk bersembunyi dengan hitungan, biasanya 1-10.
  5. Pemain yang ditemukan pertama akan menjaga.

21. Permainan Tradisional Polisi-polisian di Indonesia

Permainan tradisional
dunialari.com

Permainan ini tidak begitu populer seperti permainan tradisional yang lain, tapi permainan ini banyak dimainkan oleh anak-anak desa dan di dalam permainan ini juga membutuhkan orang yang banyak agar lebih seru dan menyenangkan.

Sejarah Permainan Tradisional Polisi-polisian

Memang tidak banyak yang mengetahui mengenai sejarah permainan ini, walaupun begitu permainan ini memiliki banyak kisah, permainan ini membuat kamu bekerja keras dan membutuhkan kekompakan. Permainan ini membutuhkan strategi dan feeling yang tepat.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Bagi pemain menjadi dua kelompok, masing-masing setiap kelompok beranggota 7-10 orang.
  2. Permainan ini akan lebih menyenangkan jika dimainkan pada malam hari, biasanya pada malam minggu.
  3. Kelompok yang pertama memiliki tugas menjadi polisi dan kelompok kedua menjadi penjahat.
  4. Polisi memiliki tugas menangkap penjahat yang berkeliaran dan berlarian, penjahat memiliki batas untuk berlarian.
  5. Apabila semua penjahat berhasil ditangkap oleh polisi, maka polisi menjadi pemenang.

22. Permainan Tradisional Rangku Alu di Indonesia

Permainan tradisional
organisasipena.blogspot.com

Permainan rangku alau merupakan permainan tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, permaian tradisional ini menjadi permainan favorit di semua kalangan. Rangku alu biasanya dimainkan saat musim panen tiba. Membutuhkan 4 batang bambu untuk memainkannya.

Sejarah Permainan Rangku Alu

Permainan ini sudah ada sejak zaman dahulun permainan ini berasal daru bagian timur Indonesia dan memiliki makna tersendiri, permainan tradisional ini dimainkan sebaga wujud dari rasa syukur dan enang karena telah panen besar.

Permainan ini membutuhkan skill yang tidak mudah, kamu harus memiliki kesigapan dan kehati-hatian, semakin lama kamu bermain permainan ini maka permainan irama akan semakin cepat. Tapi kini permainan ini semakin populer dan akhirnya dimainkan tidak hanya di waktu panen saja.

Baca Juga: Bus Pariwisata Medan

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini terdiri dari dua kelompok, masing-masing kelompok beranggota empat orang.
  2. Setiap kelompok dibagi tugas, ada kelompok yang bertugas menjaga dan kelompok bermain.
  3. Kelompok yang berjaga bertugas memainkan bambu dan dibenturkan membentuk persegi sambil diiringi nyanyian.
  4. Sedangkan kelompok yang bermain harus melompat-lompat menghindari bambu agar tidak terjepit.
  5. Apabila kelompok yang bermain kakinya terjepit bambu, maka tugas kelompok berganti.

23. Permainan Tradisional Ma’raga di Indonesia

Paraga kini termasuk ke dalam kesenian dan olahra. Paraga sekarang sudah mengalami perkembangan, keberadaanya sudah lama menjadikan permainan ini sebagai salah satu kesenian lokal yang sudah mendunia.

Sejarah Permainan Tradisional Marraga

Permainan paraga atau biasa dikenal dengan n marraga/mandaga merupakan suatu permainan yang berasal dari suku Bugiss dan Makassar, di dalam permainan ini kita tidak hanya bermain, melainkan ikut menari. Bola yang digunakan dalam permainan ini adalah bola takraw.

Ada perbedaan pendapat yang membahas mengenai kemunculan permainan ini, ada yang mengatakan permainan ini berasal dari tanah Malaka, namun pendapat ini tidak bisa dibuktikan karena masyarakat Malak sendiri tidak mengenal dan mengetahui permainan tradisional ini.

Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa permainan ini berasal dari Pulau Nias, hal ini bisa dibuktikan dengan keberadaan masyarakat yang sudah mengenal permainan ini, katanya permainan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka yang merupakan tradisi turun menurun.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Bentuklah lingkaran dengan posisi berdiri sebelum permainan dimulai.
  2. Permainan ini tidak begitu rumit, kita hanya berusaha mempertahankan bola agar tidak jatuh menyentuh tanah.
  3. Bentuklah dua tim, masing-masing tim dibagi dengan cara selang seling.
  4. Apabila bola terjatuh saat posisi berada di kelompok satu, maka kelompok dua akan mendapatkan poin.
  5. Kedua kelompok saling melemparkan bola ke setiap lawannya.
  6. Bola boleh dipertahankan menggunakan apa saja asalkan tidak dipenggang.

24. Permainan Tradisional Pletokan di Indonesia

Permainan tradisional
devianart.com

Pletokan merupakan permainan tradisional yang berasal dari jakarta. Permainan ini sangat diminati oleh anak laki-laki karena melalu permainan ini mereka akan merasakan bagaimana peperangan, dalam permainan ini juga membutuhkan strategi dan kerjasama dalam kelompok.

Sejarah Permainan Tradisional Pletokan

Pletokan merupakan permainan tradisional yang tidak diragukan lagi kepopulerannya, permainan ini sudah menjadi permainan favorit bagi masyarakat Indonesia khususnya anak laki-laki. Nama pletokan sendiri diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh bambu yang memiliki ukuran 30 hingga 40cm dan diameter ½ hingga2 cm.

Permainan ini mencerminkan peperangan perjuangan pahlawan di zaman dahulu, karena dahulu belum menggunakan senjata modern seperti pistol. Permainan ini mengajarkan kita pentingnya bekerja sama dan mengatur strategi untuk memenangkan peperangan.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Bentuk dua kelompok lalu cari tempat yang bisa digunakan sebagai tempat untuk bersembunyi dan menembak.
  2. Peluru terbuat dari kertas yang dibentuk bulat, lalu dibasahi dan dimasukkan ke dalam lubang bambu.
  3. Setiap pemain memiliki tiga kesempatan, apabila sudah terkena tembakan selam tiga kali maka pemain tersebut akan gugur.
  4. Permainan ini berlangsung sebanyak dua kali dalam satu ronde, jika hasil seri maka diadakan ronde kedua.
  5. Diawal permainan ada peraturan yang harus dilaksanakan agar terciptannya keamanan dan sportifitas.

25. Permainan Tradisional Ular Naga di Indonesia

Permainan tradisional
sahabatnestle.co.id

Apakah kalian pernah mendengar lirik lagu ini? “Ular naga panjangnya bukan kepalang, berjalan-jalan selalu riang kemari, umpan yang lezat itulah yang dicari, ini dia nya yang terbelakang”, ya ini merupakan lagu biasa dinyanyikan oleh anak-anak saat bermain ular naga, permainan tradisional ini bisa membuat jantung menjadi deg-degan diringi canda tawa yang menyenangkan.

Sejarah Permainan

Keberadaan ular naga sudah diketahui sejak zaman dahulu, permainan ini membutuhkan pemain yang banyak, permainan tradisional ular naga merupakan permainan turun temurun dan asal usulnya tidak begitu jelas dan seperti apa latar belakang permainan ini, yang pastinya permainan ini memiliki nilai sejaranya sendiri.

Nama ular naga pada permainan ini disebabkan karena permainan ini membentuk barisan memanjang yang diibaratkan seperti ular, ular naga adalah hewan mitos yang keberadaannya tidak pasti.

Peraturan dan Cara Bermain

  1. Permainan ini membutuhkan 10 orang pemain, dua orang bertugas sebagai penjaga dan sisanya berbaris di belakang membentuk ular, kedua tangan pemain diletakkan di atas pundak pada teman-teman yang berada di depannya.
  2. Dua orang tadi saling berhadap-hadapan dan saling berpegangan tangan lalu diangkat ke atas membentuk terowongan.
  3. Setelah itu pemain berputar melewati dua orang yang menjaga.
  4. Permainan berjalan sambil diiringi nyanyian, semua pemain dan penjaga bernyanyi bersama-sama, saat lirik terakhir penjaga akan menjepit barisan dan yang terjepit akan keluar dari barisan ular.
  5. Pemain yang pertama tertangkap akan menjadi ketua kelompok pertama dan yang kedua tertangkap akan menjadi kelompok ketua kelompok kedua.
  6. Dan pemain yang ketiga tertangkap dan seterusnya diberikan pilihan untuk mengikuti kelompok.
  7. Setelah semua pemain tertangkap, maka permainan perebutan kelompok dimulai.
  8. Kelompok yang anggotanya habis duluan adalah kelompok yang kalah


Itulah 25 macam permainan tradisional Indonesia yang beserta sejarah dan cara bermainnya. Permainan yang mempunyai banyak manfaat terhadap perkembangan mentoring dan kekuatan tubuh dibandingkan dengan permainan yang hanya menggunakan jari untuk bermainnya sangat jauh berbeda.

Whoops! Peter parker Ketahuan, Spider-Man “Home Coming”

Peter Parker – Kalian pasti tahu Siapa dia, ya dia adalah seorang pahlawan super yang memiliki kemampuan yang luar biasa, tidak perlu saya beritahu lebih rinci, karena kalian mungkin lebih mengetahuinya dari saya…hehe 😀

Dalam film terbarunya Peter Parker yaa…

Peter Parker secara keseluruhan menyelinap kembali ke rumah dengan manuver. Paling tidak sampai dia sengaja membuka kedoknya di depan tunas terbaiknya.

Tom Holland dengan cerdik meminta Zendaya untuk mudik sebelum beralih ke klip baru dari Spider-Man: Homecoming (di bioskop 7 Juli) di panggung MTV Movie and TV Awards pada hari Minggu malam.

“Anda Spider-Man! Dari YouTube!” Sebuah suara Ned yang tertegun (Jacob Batalon) mengoceh setelah melihat Peter (Belanda) merangkak melintasi langit-langit kamarnya. Dia bertanya apakah Peter adalah Avenger. “Saya akan menyamakan dengan Anda: Saya tidak berpikir saya bisa merahasiakan ini. Ini adalah hal terhebat yang pernah saya alami!”
Rekaman itu juga menawarkan kesempatan bertunangan dengan Hollandless bertelanjang dada dan melihat Michelle yang unik dari Zendaya. “Apa yang Anda sembunyikan, Peter?” Dia bertanya dengan curiga, sebelum menambahkan, “Saya hanya bercanda, saya tidak peduli, sampai jumpa.”

Watch it now.

861377240633720833

“You’re the Spiderman!” Here’s your first look at a brand new @SpiderManMovie clip, exclusively from the airing right now!

10 Pahlawan Wanita Dari Aceh yang Wajib Diketahui

pahlawan wanita dari aceh

Pahlawan Wanita Dari Aceh

Pahlawan Wanita Dari Aceh – Wanita millenium Indonesia masih berjuang untuk menegakkan kesamaan haknya, mereka terinspirasi dari R.A Kartini. 7 Abad yang lalu wanita Aceh telah menikmati hak-hak persamaan. Mungkin selama ini kita hanya mengenal Cut Nyak Dien sebagai pahlawan wanita dari Aceh.

Hal tersebut dapat kita pahami karena perjuangannya melawan Belanda sudah difilmkan, yang mana Cut Nyak Dien diperankan oleh Christine Hakim. Sebenarnya Cut Nyak Dien hanya satu dari sekian banyak wanita Aceh yang memiliki perjuangan dan kehebatan yang luar biasa.

Wanita Aceh begitu luar biasa, mereka ikut serta dalam peperangan yang biasanya secara keseluruhan dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka bahkan menjadi panglima, memimpin ribuan pasukan di hutan dan gunung-gunung. Jika ada suaminya yang berpaling muka dari Belanda, wanita Aceh berani meminta cerai.

Kaum laki-laki menerima dan dengan lapang hati memberikan semua jabatan tertinggi dan siap menjadi anak buah istrinya. Beberapa periode, kerajaan Aceh yang berdaulat pernah dipimpin oleh wanita. Selain Cut Nyak Dien, masih banyak pahlawan wanita Aceh lainnya, diantaranya:

Ratu Nahrasiyah

Seorang yang ahli islam yang diutus oleh Belanda untuk memperoleh informasi dan memperoleh titik lemah masyarakat Aceh. Ia menemukan sebuah makam yang indah di situs purbakala Kerajaan Samudera Pasai yang membuatnya terkagum-kagum.

Makam yang terbuat dari pualam tersebut merupakan makam yang terindah di Asia Tenggara. Makam yang dihiasi oleh ayat-ayat Al-qur’an itu adalah makam seorang Ratu yang bernama Nahrasiyah. Ratu tersebut merupakan seorang pemimpin besar, karena bisa dilihat dari hiasan makamnya yang begitu istimewa.

Ratu Nahrasiyah merupakan putri dari Sultan Zain Al-Abidin. Tidak banyak sumber sejarah mengenai dirinya yang sudah lebih 20 tahun memerintah. Kerajaan Samudera Pasai selalu menghasilkan mata uang emas. Namun, kepemilikan Ratu Nahrasiyah sampai sekarang belum ditemukan.

Sultanah safiatuddin Syah (1641-1675)

Aceh Darussalam adalah sebuah kerajaan yang berdaulat. Syafiatuddin tumbuh menjadi gadis yang cerdas, rupawan dan memiliki ilmu yang mumpuni. Saat dewasa, Syafiatuddin dinihkan oleh ayahnya dengan putera Sultan Pahang Iskandar Thani yang dibawa ke Aceh setelah dikalahkan Sultan Iskandar Muda.

Pada tahun 1636, Sultan Iskandar Muda meninggal dunia. Menantunya lalu diangkat menjadi Sultan Aceh. Lima tahun memerintah kerajaan Aceh Darussalam, ia meninggal dunia pada 15 Februari 1642 tanpa meninggalkan keturunan. Tiga hari setelah berkabung, para petinggi kerajaan sepakat mengangkat sang permaisuri raja. Akan tetapi, menjelang penobatan permaisuri, timbul pertetangan.

Ada dua alasan, pertama Sultan Iskandar Thani tidak memiliki putra dan yang kedua, wanita tidak memiliki kelayakan menjadi raja. Permasalahan tersebut diserahkan kepada Ulama tinggi yang berpengaruh pada saat itu, yaitu Tengku Abdurrauf dari Singkil. Ia menyarankan urusan agama dan urusan pemerintahan dipisahkan.

Dari hukum Islam dan pandangan adat, Syafiatuddin memenuhi syarat menjadi seorang pemimpin. Syafiatuddin juga memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang bagus dan cukup. Para Ulama juga mengeluarkan fatwa bahwa urusan negara dan agama harus dipisahkan selama keduanya tidak bertentangan.

Sultanah membentuk lembaga untuk bermusyawarah, yaitu Balai Rungsari (Institusi yang terdiri dari 4 uleebalang besar Aceh), Balai Gadeng, Balai Majelis Mahkamah rakyat. Diantara 73 anggota tersebut, terdapat sejumlah wanita. Ia merupakan raja besar yang sangat dihormati oleh rakyatnya dan ia juga disegani oleh negara asing.

Ratu Inayat Zakiatuddin Syah

Setelah Naqiatuddin Syah meninggal, ia digantikan oleh Inayat Zakiatuddin Syah. Pada masa pemerintahannya, Inggris dikunjungi oleh Aceh, Inggris ingin membangun sebuah benteng pertahanan untuk melindungi kepentingan dagangnya. Ratu Inayat Zakiatuddin menolak pembangunan benteng tetapi boleh berdagang.

Ratu Inayat Zakiatuddin mengetahui maksud dari pembangunan bersenjata tersebut. Saat itu ia kedatangan seorang tamu yang diutus dari Mekkah. Tamu tersebut bernama El Hajj Yusuf E. Qodri dan datang pada tahun 1683. Dari utusan itu Ratu mendapatkan hadiah. Sekembali ke Mekkah, utusan itu melaporkan kepada Rajanya betapa baik pemerintahan Ratu Kerajaan.

Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah

Sultanah Naqiatuddin merupakan putri Malik Radiat Syah. Ia melakukan banyak perubahan terhadap undang-undang Dasar Kerajaan Aceh serta Adat Meukuta Alam. Pada masa pemerintahannya Aceh dibagi menjadi 3 federasi yang dikenal dengan Sagi (Ihee sagoe). Sagi dipimpin oleh Panglima Sagi.

Maksud dari pembentukan 3 federasi tersebut adalah agar birokrasi tersentralisasi dengan baik. Akan tetapi setiap sagi tidak melakukan pemerintahannya sendiri-sendiri. Sultanah juga menyempurnakan Adat Meukuta Alam yang sebelumnya dirancang oleh Sultan Iskandar Muda.

Kemajuan yang dilakukan oleh Sultanah yaitu mengeluarkan mata uang emas. Masa pemerintahannya hanya sebentar yaitu pada tahun 1675-1678 M, memang tidak banyak prestasi yang bisa dicapainya. Beberapa peristiswa besar yang terjadi pada masa pemerintahannya yaitu terbakarnya Masjid Raya Baiturrahman dan banyak istana yang menyimpan kekayaan ikut terbakar.

Ratu Kamalat Zainatuddin Syah

Sejarah Ratu ini tidak begitu banyak diketahui. Ada 2 versi yang menceritakan tentang asal-usulnya. Perkiraan pertama adalah, ia anak angkat dari Ratu Sultanah Safiatudding Syah dan pendapat lain mengatakan ia adalah adik dari Ratu Zakiatuddin Syah yang merupakan pahlawan wanita dari Aceh.

Pada masa pemerintahannya, para pembesar kerajaan mengalami perpecahan dalam 2 bagian. Golongan kaya bersatu dengan golongan agama dan menginginkan kaum pria kembali duduk dalam kesultanan.

Kelompok yang tetap menginginkan wanita tetap menjadi Raja dan Panglima Sagi. Perbedaan pendapat ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru dan menimbulkan kontak senjata. Namun, kemudian kedudukan Kamalat Syah tidak bisa lagi dipertahankan setelah para Ulama meminta pendapat dari Qadhi Malikul Adil dari Mekkah.

Dalam surat balasan, Malikul Adil mengatakan bahwa kedudukan wanita sebagai raja berselisih dengan syariat islam. Ratu Kamalat Zaiantuddin turun dari tahtanya pada bulan Oktober 1699. Pada masa pemerintahannya, ia mendapat kunjungan dari persatuan dagang Prancis dan serikat dagang dari Inggris East Indian Company.

Laksamana Malahayati atau Keumalahayati

Beliau bukanlah pahlawan komik dari negeri antah berantah, ia benar-benar ada. Keumalahayati merupakan seorang pahlawan wanita dari Aceh. Malahayati merupakan sosok figur yang sering muncul dalam catatan penulis asing dan Indonesia sendiri.

Malahayati menjadi panglima Kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Al-Mukammil (1589-1604). Ia mendapat kepercayaan menjadi seorang yang memiliki kedudukan tinggi dalam militer dari Sultan karena keberhasilannya memipin pasukan wanita. Malahayati berasal dari keturunan Sultan.

Ia merupakan anak dari Mahmud Syah yang merupakan seorang laksamana. Kakeknya berasal dari garis ayahnya dan juga seorang laksamana yang bernama Muhammad Said Yah, putra dari Sultan Slahuddin Syah yang memerintah pada tahun 1530-1539.

Cut Nyak Dien

Siapa yang tidak kenal dengan pahlawan wanita dari Aceh yang satu ini. Suaminya, Teuku Umar meninggal, ia melanjutkan perjuangan bersenjata dengan pilihan “Hidup atau mati di hutan belantara daripada menyerah di tangan Belanda”. Ia membiarkan dirinya mengalami kelaparan di hutan sambil terus dibayang-bayangi oleh pasukan Belanda yang mengejarnya.

Cut Meutia

Pocut Baren

Pocut Meurah Intan

 

 

Asal Usul dan Sejarah Berdirinya Monas di Jakarta

Sejaraha Berdirinya Monas

Sejarah Berdirinya Monas

Sejaraha Berdirinya Monas
wikimedia.org

Sejarah Berdirinya Monas – Monumen Nasional atau yang sering kita sebut dengan Monas pada  12/07-2016 lalu berusia 41. Monumen ini terletak tepat di pusat Kota Jakarta. Siapa yang tidak tahu dengan Monumen yang satu ini, Monumen ini merupakan tugu kebanggaan bangsa Indonesia.

Tinggi Monas

Selain itu tugu Monas menjadi salah satu sarana tempat wisata dan defenisi pusat pendidikan yang sangat menarik bagi warga Indonesia, baik yang berada di Jakarta maupun dari luar Jakarta. Tugu Monas memiliki tinggi 433 kaki (132m).

Bentuk Monas yang menjulang tinggi memiliki kandungan falsafah “Lingga dan Yoni” yang menyerupai “Alu” sebagai “Lingga” dan bentuk wadah yang berupa ruangan yang menyerupai “Lumpang” sebagai “Yoni”.

Alu dan Lumpang adalah suatu yang sangat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia, khususnya warga pedesaan. Lingga dan Yoni merupakan simbol dari zaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, Lignga adalah unsur positif dan Yoni adalah unsur positif, seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian dunia.

Bentuk garis-garis arsitektur tugu ini menggambarkan garis-garis yang bergerak tidak monoton merata, naik, melompat, melengkung, merata lagi dan naik menjulang tinggu dan akhirnya menggelombang di atas bentuk lidah api yang menyala.

Badan Tugu yang menjulang tinggi dengan lidah api yang menyala di ouncaknya menggambarkan semangat yang berkobar-kobar dan tidak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia.

Perancang Monas

Menurutnya sejarah berdirinya, Monas mulai dibangun pada bulan Agustus tahun 1959. Bangunan Monas dirancang oleh arsitektur asli Indonesia, yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir.Rooseno, pada tanggal 17 Agustus 1961 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno.


Monas dibangun pada tahun 17 Agustus tahun 1961, bertepatan saat Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaan yang ke-16. Pengerjaan pembangunannya saat itu terdiri dari dari tiga kali bagian waktu.

Pada periode pertama dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun 1961/1962-1964/1965 yang pada saat itu dipimpin langsung oleh Presiden Ir.Soekarno. Sebanyak 360 pasak bumi yang ditanamkan untuk pondasi bangunan landmark Indonesia tersebut.Monas memiliki ciri khas tersendiri, karena arsitektur dan dimensinya melambangkan kekuhusan dari Indonesia.

Pada pembangunan tahap kedua dilakukan dalam kurun waktu 2 tahun 1966-1968. Sebab terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, pembangunan sempat tertunda. Sementara tahap akhir pembengunan berlangsung pada tahun 1969-1976.

Bentuk yang paling menonjol pada monas adalah tugu yang menjulang tinggi dan bagian cawan yang luas mendatar.Di atas terdapat api yang menyala seakan tak pernah padam, itu melambangkan keteladanan semangat bang Indonesia yang tidak pernah padam sepanjang masa.

Bentuk dan letak Monas sangat menarik dan pengunjung dapat menikmati pemandangan indah dan sejuk yang begitu mempesona, berupa taman yang ditumbuhi pohon dari berbagai provinsi di Indonesia. Kolam air mancur yang terdapat pada gerbang masuk dan mebuat taman menjadi lebih sejuk.

Gagasan Pembangunan Monas

Gagasan pembangunan Monal setelah 9 tahun kemerdekaan diproklamirkan. Bebeberapa hari setelah memperingati HUT Republik Indonesia ke-9, lalu dibentuk Panitia Tugu Nasional yang memiliki tugas mengusahakan berdirinya Tugu Monas. Panitia ini dipimpin oleh Sarwoko Martokusumo, S.Suhud sebagai penulis, Sumali Prawisudirdjo sebagai bendahara dan dibantu oleh 4 anggota, yaitu Supeno, K.K Wiloto, E.F Wenas dan Sudiro.

Panitia tersebut dinamakan “Tim Yuri”. Melalui tim ini sayembara diadakan 2 kali. sayembara pertama diadakan pada 17 Februari 1955 dan sayembara kedua digelar pada 10 Mei 1960 dengan harapan dapat menghasilkan karya budaya yang memiliki nilai setinggi-tingginya dan menggambarkan keluhuran budaya Indonesia.

Panitia yang sudah dibentuk memiliki tugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan Monas yang akan dibangun di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta.

Sejarah Berdirinya Monas

Monas terdiri dari beberapa bagian, yaitu Pintu gerbang utama, ruang museum sejarah, ruang kemerdekaan, pelataran cawan, puncak tugu, Api kemerdekaan dan Badan tugu. Semua ukuran yang terdapat dalam Monas sudah disesuaikan dengan angka hari lahirnya Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17-08-1945.

Sayembara Pembangunan Monas

Sayembara terbuka diadakan sebelum pelaksanaan pembangunan. Sayembara hanya boleh diikuti oleh semua warga negara Indonesia, baik secara kolektif maupun individu. Sayembara dibuka pada 17 februari 1955 dan ditutup Mei 1956, pada saat itu diikuti oleh 51 peserta. Peserta tebaik pada saat itu adalah Frederich Silaban, tapi ia tidak mampu memenuhi syarat pembentukan tugu.

Sayembara kedua dibentuk dengan juri Kepres RI No.33/1960, dimulai 10 Mei 1960. Bentuk dari Tugu yang diharapkan panitia sebaiknya menggambarkan kepribadian dari Indonesia, karya budaya yang dapat mengobarkan semangat patriotik, tiga dimensi, tidak rata, menjulang tinggi, terbuat dari beton, besi dan batu pualam, serta bisa bertahan selam 100 tahun.

Dalam sayembara kedua yang ditutup pada 15 oktober 1960, dari sebanyak 222 orang peserta dan sebanyak 136 rancangan, masih belum ada yang bisa mencapai kriteria yang telah ditetapkan oleh panitia.

Sebagai ketua juri, Presiden Ir.Soekarno kemudian menunjuk arsitek Soedarsono dan Frederich Silaban untuk membuat rencana rancangan Tugu Monas. Setelah rencana yang dibuat disetujui pada tahun 1961, maka pemancangan tiang pertama dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961.

Dalam pelaksanaanya saat itu Soedarsono bertugas sebagai direksi pelaksana, PN Adhi karya sebagai pelaksana utama atas dasar upah ditambah jasa, Prof.Ir. Rooseno bertugas sebagai supervisor dalam kontruksi. Dalam hal kewenangan kekuasaan daerah, logistik, koordinasi, perjanjian kerja dengan kontraktor dipimpin oleh Umar Wirahadikusuma.

Bagian Bangunan Monas

Ruang Museum Sejarah

Ruang museum sejarah terletak 3 meter di bawah permukaan halaman Monas memiliki uran sebesar 80×80 meter. Dinding dan lantai di ruangan itu semuanya dilapisi oleh batu marmer. Di dalam ruangan Monas, pengunjung disajikan dengan 51 jendela yang mengabadikan sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia hingga masa pembangunan di masa orde baru. Di ruangan ini, pengunjung dapat mendengarkan suara rekaman suara Ir.Soekarno ketika membeacakan teks Proklamasi.

Ruang Kemerdekaan

Di ruang kemerdekaan yang terbentuk ampiteater yang terletak di dalam cawan tugu, dan juga terdapat 4 atribut kemerdekaan, yaitu peta kepulauan Negara Republik Indonesia, Lambang Negara Bhinneka Tunggal Ika dan pintu gapura yang berisi naskah Proklamasi Kemerdekaan.

Di pelataran puncak tugu yang berada di ketinggian 115 meter, dari halaman tugu yang memiliki ukuran 11×11 meter, untuk mencapai pelataran pengunjung bisa menggunakan lift yang berkapasitas sekitar 11 orang.

Pelataran mampu menampung sekitar 50 orang, disana juga disediakan 4 teropong yang terdapat pada setiap sudut, disana pengunjung bisa melihat pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 132 meter dari halaman tugu Monas.

Pada puncak Tugu Monas terdapat lidah api yang terbuat dari perunggu yang memiliki berat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan memiliki diameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Semu bagian lidah api dilapisi oleh lempengan emas yang memiliki berat 35 kilogram, dan kemudian pada HUT ke-50 Republik Indonesia, emas yang melapisi lidah api itu lalu ditambah menjadi 50 kilogram.