Teman Baru di Wilayah Baru

Next….Teman Baru

Ceritaku masih berlanjut, orang misterius itu tidak bosan-bosannya memanggilku. Hal itu membuatku kebingungan, kenapa ia selalu memanggilku dan lari begitu saja. Aku berniat untuk mengejarnya dan ingin menanyakan sebab ia selalu memangilku. Aku selalu orang misterius itu, menunggu adalah hal sering kulakukan sejak orang misterius itu selalu memanggilku.

iniaku.net

Akhirnya tak sia-sia aku menunggu orang misterius itu , aku segera mengejarnya dan berlari sekencang yang kubisa. Dan kali ini usahaku membuahkan hasil, aku tarik bajunya dan akhirnya dia menyerah, lalu aku bertanya mengapa ia selalu memanggilku, ia hanya tertawa dan tidak menjawab pertanyaanku.

Awal Pertemanan

Keesokan harinya aku bermain dengan adikku, kalian pasti tau apa yang dimain anak laki-laki saat masih kecil. Jawabannya adalah mainan, baik itu mobil-mobilan, mainan robot dan sebagainya. Pada waktu itu aku bermain mobil-mobilan dan kebetulan orang misterius itu lewat dan memperhatikanku bermain.

Awalnya aku masih asik dengan mainanku, tapi melihat ia yang terpaku memperhatikanku, aku merasa tidak nyaman,  kupinjamkan mainanku dan ia merasa senang. Sejak saat itu kami semakin dekat dan selalu bermain bersama. Kini aku tau nama orang misterius itu, karena aku selalu mendengarkan ibunya  memanggil namanya.

pixabay.com

Namanya Rino, aku tidak tau nama lengkapnya yang aku tau hanya nama panggilannya. Keesokan harinya aku diajak Rino untuk bermain dirumahnya. Ternyata rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku, jaraknya hanya beberapa meter.

Karena rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku, aku selalu pergi bermain kerumahnya. Hal itu kulakukan setiap hari dan tanpa terkecuali. Kadang ia yang pergi bermain kerumahku, kami bermain mobil-mobilan bersama dan hal lainnya bersama.

Seperti Saudara

youtube.com

Karena segala hal selalu kami lakukan bersama, kami sudah seperti saudara. Bahkan saat aku bermain kerumahnya, aku sudah dianngap anak oleh orang tuanya. Saat makan, aku juga diajak untuk makan, dan saat berbelanja aku juga diberi uang untuk belanja.

Begitu juga dengan Rino, setiap ia main dirumahku, ia juga mengalami apa yang kualami dirumahnya. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku ingat suatu hari aku dan Rino bermain disekitar sawah, kebetulan saat itu padi baru selesai di panen, kami sibuk bermain layangan dari siang hingga sore, hari itu aku sampai lupa waktu dan lupa makan.

Saat tiba dirumah aku langsung menerima banyak pertanyaan, setiap pertanyaan tidak bisa kujawab. Tapi aku mengakui kesalahanku yang bermain hingga lupa waktu dan makan. Orang tuaku tentunya sangat khawatir, karena bermain di siang hari dan sampai lupa makan, hal itu bisa menyebabkan penyakit.

pixabay.com

Sejak saat itu setiap bermain keluar rumah aku selalu meminta izin. Setiap hari aku hanya bermain dirumah bersama adikku, bermain dirumah itu rasanya menyenangkan. Sudah lebih dari seminggu aku hanya bermain dirumah, meskipun jarak rumahku dengan Rino dekat, aku masih menikmati senangnya bermain dirumah.

Mulai Bosan

pixabay.com

Bermain dirumah  bersama adik, kadang terjadi perselisihan. Kami terkadang memperebutkan mainan yang baru saja dibeli, walaupun kami sudah memiliki mainan masing-masing, kami masih saja bertengkar. Hal itu wajar terjadi pada anak kecil, karena sering bertengkar aku mulai merasa bosan bermain dirumah, rasanya aku ingin kembali bermain diluar.

Aku memikirkan cara untuk bermain diluar rumah, setelah lama berpikir akhirnya aku mendapatkan cara untuk keluar dari rumah. Saat itu aku langsung mempraktekkannya, aku menunggu keluargaku sibuk dengan kegiatannya masing-masing, setelah mereka sibuk aku langsung membuka pintu dan langsung berlari keluar rumah.

Cara yang aku pikirkan berhasil, aku berlari ke rumah Rino dan memanggilnya. Tak butuh waktu lama untuk memanggilnya, sekali panggil ia langsung menampakkan diri. Dia langsung menyambutku dan mengajakku bermain mainan yang ia punya.

pixabay.com

Waktu itu tak terpikirkan olehku sebab dan akibat aku keluar rumah tanpa izin, yang terpikirkan olehku hanya bermain dan bermain. Hari sudah mulai gelap, orang tua Rino menyuruhku untuk segera pulang. Aku segera pulang, diperjalanan aku berpikir bahwa besok aku akan melakukan cara ini lagi.

Setibanya dirumah, aku disambut oleh orang tuaku dengan pertanyaan. Orang tuaku menanyakan mengapa aku pergi keluar tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aku menjawab bahwa aku bosan bermain dirumah dan jika ada yang tau kalau aku pergi keluar takutnya tidak ada yang mengizinkan.

Nasehat yang Bermanfaat

http://m2mtroppers.blogspot.co.id

Orang tuaku tersenyum dan menjelaskan kepadaku jika ingin pergi keluar harus meminta izin dahulu, aku mengangguk mengerti. Sejak saat itu aku selalu meminta izin jika ingin pergi bermain keluar, orang tuaku selalu mengizinkan. Setiap hari bermain diluar, dirumah orang, membuat orang tuaku merasa tidak nyaman karena mengganggu aktivitas.

Orang tuaku menyarankanku untuk mengajak Rino bermain dirumahku. Aku mendengarkan orang tuaku, saat aku bermain dirumah Rino, aku mengajaknya untuk bermain dirumahku. Akhirnya ajakanku diterima Rino, kami main bersama dan saling berganti mainan.

Saran orang tuaku memang saran yang sangat baik, aku sangat senang memiliki orang tua yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang.

Mengejar Layangan

shutterstock.com

Musim panen padi sudah selesai dan sawah sudah mulai terlihat rata, itu menandakan bahwa musim layangan sudah dimulai. Rino sibuk dengan bambunya, sedangkan aku hanya memperhatikan yang Rino lakukan. Bambu dibelah menjadi beberapa bagian, lalu diukur dan diikat dengan tali, setelah kerangka selesai, kertas untuk layangan diukur, setelah ukurannya sesuai, kertas dilem dan dilekatkan pada kerangka bambu tadi.

chateauceloteh.files.wordpress.com

Proses pembuatan belum selesai, tali untuk mengingatkan benang harus sesuai, jika tidak layangan tidak akan bisa kita mainkan. Setelah semua selesai, aku membantu Rino memegang layangan, aku berlari menjauh dari Rino, pada jarak yang sudah ditentukan aku berhenti. Rino menyuruhku melepaskan layangannya, dan seketika layangan berhasil melayang tinggi.

pixabay.com

Aku merasa senang melihat layangan yang melayang tinggi di udara. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika aku melayang bebas di udara dan merasakan sejuknya angin yang berhembus tenang. Pikiran itu seketika terhenti ketika aku melihat layangan lain putus, aku berpikir lagi bagaimana jika aku putus dari ketinggian. Mungkin tak bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya.

Beberapa saat setelah layangan putus, terdengar suara ribut anak-anak yang mengejar layangan tersebut. Aku kaget mengapa karena hanya satu layangan yang putus membuat banyak orang menjadi ricuh. Tidak hanya itu, aku juga kaget melihat temanku Rino ikut juga mengejar layangan, karena melihat Rino berlari mengejar layangan, aku juga ikut-ikutan mengejar layangan.

Berlari sekuat tenaga itu yang aku lakukan, aku menikmati derasnya angin yang menghembus seluruh tubuhku. Mungkin itu yang membuat banyak anak-anak yang senang mengejar layangan. Setelah jauh berlari, layangan yang kukejar semakin jauh, aku berhenti dan duduk di atas tanah untuk melepas lelah.

Setelah lelah yang aku rasakan hilang, aku langsung kembali ke tempat awal. Aku menunggu Rino yang masih belum kembali, tak lama kemudian Rino kembali, karena masih penasaran mengapa banyak orang yang mengejar layangan, aku langsung bertanya kepada Rino, ia menjawab bahwa jika ada yang mendapatkan layangan yang putus akan mendapatkan imbalan.

Akhirnya kini aku mengerti apa yang menyebabkan banyak orang mengejar layangan. Ya itu karena imbalan, dan juga kesenangan saat menejar layangan.

 

 

Suasana Baru Rumah Baru yan Menyenangkan

Apakah kalian pernah merasakan bagaimana rasanya berpisah? Ya mungkin kalian tahu bagaimana rasanya berpisah, akan tetapi pada saat itu tidak begitu merasakan apa itu perpisahan, karena aku masih kecil dan belum mengerti apa-apa.

Singkat

Masa-masa bermain dengan teman-temanku begitu singkat. Rasanya baru kemaren aku bermain bersama teman-teman, ya sudah lebih dari 3 tahun kami main bersama. Kini aku harus pindah rumah, karena saat itu aku masih mengontrak dan belum memiliki rumah tetap untuk ditinggali.

rizaltri.wordpress.com

Tepatnya tahun 2001, aku bersama keluarga pergi untuk pindah, berangkat ke rumah yang baru, suasana yang baru, warga yang baru dan pastinya aku akan mempunyai teman yang baru. Saat itu aku tidak begitu memikirkan apa yang dilakukan oleh orang-orang, aku hanya menyaksikan orang mengangkat barang-barang yang dikeluarkan dari rumahku.

Setelah semua barang sudah selesai diangkut keatas mobil, kami sekeluarga berpamitan ke rumah tetangga yang lain. Teman-temanku bertanya kepadaku kenapa semua barang diangkut ke atas mobil, dengan polos aku hanya menjawab bahwa aku akan pindah.

Waktunya berangkat

blibli.com

Berselang beberapa menit setelah kami pamit, pemiliki rumah datang dan ikut membantu memberi tumpangan. Aku mencoba menaiki kaki ke atas mobil, akan tetapi kakiku tidak sampai, aku coba lagi dan lagi. Akhirnya setelah lama berusaha, ayahku membantuku dengan menggendongku ke atas mobil.

Setelah semua anggota keluarga lengkap diatas kendaraan, sopir menghidupkan mesin dan beberapa saat mulai menggas perlahan. Aku memperhatikan teman-temanku melambaikan tangannya, aku hanya bisa tersenyum. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu kembali.

photosspeak.net

Aku menikmati perjalanan menuju rumah baru, rasa penasaran menghantuiku, entah bagaimana suasana dan apakah mungkin ada yang ingin bermain denganku. Tidak begitu lama perjalanan yang kurasakan, karena hanya beberapa menit aku telah sampai ke tempat tujuan.

Ya tempat rumah lamaku jaraknya tidak begitu jauh dari rumah baruku, sekitar 8 menit perjalanan. Ya saat itu aku merasa lama diperjalanan, karena aku belum pernah ke daerah tersebut. Tapi kalau dihitung-hitung, jaraknya tidak begitu jauh dan setiap hari aku bisa bermain ke rumah lamaku, tapi kini rumah itu bukan milikku lagi.

Jadi tidak mungkin aku bermain ke rumah itu, aku hanya bisa bermain bersama temanku dengan batasan waktu tertentu, misalnya aku hanya bisa bermain di waktu libur atau saat ibuku bekerja. Ibuku bekerja tidak jauh dari sana, tetapi jika ingin bermain disana harus ada pengawasan orang tua, karena harus menyeberangi jalan raya terlebih dahulu.

Bersih-bersih

http://www.sparkleandshinecleaningco.com

Satu-persatu barang diturunkan dari kendaraan yang mengangkut, aku hanya bisa menyaksikan orang-orang menurunkan barang. Tidak mungkin pada saat itu aku mengangkat barang yang mungkin lebih berat dari berat badanku. Barang yang diturunkan begitu banyak, karena terlalu lama berdiri memperhatikan orang-orang menurunkan barang, aku merasa lelah. Aku kemudian mencari tempat yang enak untuk duduk, akhirnya aku memilih duduk di lantai depan rumah dan bersandar di depan dinding.

Semua barang telah selesai diturunkan, aku berdiri dan mencoba melihat keadaan rumah yang akan aku tinggali. Karena sudah lama tidak ditinggali, lantai rumah terasa kasar karena banyak pasir dan banyak sarang laba-laba yang menggantung. Melihat itu, ibuku dan kakakku segera membersihkannya, aku juga ikut membersihkan walaupun kerjanya masih belum maksimal.

Lantai disapu hingga tidak terasa kasar lagi, jendela dibersihkan hingga mengkilap, ventilasi rumah dibersihkan hingga tidak ada debu yang hinggap dan bagian atas rumah ikut dibersihkan hingga sarang laba-laba yang tergantung bersih.

Akhirnya pekerjaan yang aku kerjakan selesai, ya mungkin yang aku kerjakan hanya pekerjaan kecil, tetapi mengingat umurku pada saat itu, pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang berat karena umurku masih belum bisa dibilang wajar untuk bekerja.

Rumah sudah bersih, tapi dinding rumah masih terlihat kusam dan harus dicat ulang. Meskipun begitu barang sudah diturunkan harus segera dimasukkan, jika tidak kami tidak akan bisa beristirahat. Aku ikut membantu ayahku memindahkan barang-barang bisa aku angkat, ibu dan kakakku juga ikut membantu memindahkan barang.

Barang yang diangkat bisa dipindahkan dengan mudah berkat bantuan warga yang begitu banyak. Aku senang melihat banyak yang ikut membantu memindahkan barang. Itu merupakan sambutan yang sangat membuatku merasa sangat senang.

Menutup Kusam

Suasana Baru Rumah Baru
rumahcor.com

Setelah semua barang selesai dipindahkan, aku langsung mencari tempat yang nyaman untuk berbaring, akhirnya aku berbaring diatas kasur yang masih belum diletakkan pada tempatnya. Aku berbaring sambil memeperhatikan dinding rumah yang begitu kusam dan banyak sekali gambar.

Orang tuaku juga tidak nyaman melihat hal itu, dinding yang kusam menggambarkan rumah yang kotor. Orang tuaku berencana untuk mengecat ulang dinding yang sudah kusam dan tidak enak dilihat. Hari sudah makin gelap, aku segera mandi, selesai mandi aku mengganti pakaian dan langsung tidur.

Keesokan harinya aku bangun kesiangan, bau yang begitu keras membuatku sadar, ternyata ayahku sudah mengecat sebagian dinding yang kusam. Dinding terlihat sangat berbeda, bagian yang telah dicat terlihat lebih terang dan enak dipandang, sedangkan yang kusam membuat mata menjadi tidak enak.

Ayahku masih mengecat dinding yang kusam, sedangkan aku masih sibuk memperhatikan ayahku. Walaupun lama tapi hal itu tidak membuatku merasa bosan, aku merasa senang saat bagian yang kusam ditutupi dengan cat yang cerah, seperti luka yang diobati.

Aku masih sibuk memperhatikan ayahku yang masih mengecat dinding, ibuku mengingatkanku agar menjauh dari dinding yang belum kering dari cat, karena tidak mendengarkan ibuku aku terkena percikan-percikan cat dan membuat rambut dan tanganku menjadi putih.

Akhirnya semua kusam sudah ditutupi, dan sangat nyaman untuk dilihat. Karena tubuhku dipenuhi oleh cat, ibuku menyuruhku untuk membersihkan badan. Aku segera pergi ke kamar mandi, membuka pakaian, dan segera mandi. Badanku terasa segar, tapi ada satu hal yang membuatku tidak nyaman, perutku masih belum diisi.

Selesai memakai pakaian, aku segera pergi keluar kamar, tak disangka makanan sudah terhidang, dan tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil nasi dan lauk untuk dimakan. Nikmat rasanya makan bersama keluarga, apalagi masakan buatan ibu.

Seseorang yang tak kukenal

teespring-storecontent.s3.amazonaws.com

Setelah makan, aku pergi keluar dan duduk sambil menengkan perut yang sudah terisi. Sambil duduk aku memperhatikan jalan di depan rumah, banyak orang berlalu lalang, dari yang muda hingga yang tua. Saat asik memperhatikan orang yang lewat, tiba-tiba ada yang memanggilku sambil berlari. Aku penasaran, siapa yang memanggilku pada saat itu.

Keesokan harinya orang itu memanggilku dengan cara yang sama, aku segera mengejar dan mengikuti orang tersebut, ya sepertinya dia seumuran denganku. Aku tidak sempat mengejarnya, aku kehilangan jejak. Tapi aku tahu arah yang dia tuju, jadi aku tidak susah lagi untuk mengejarnya.

Suatu hari aku akan mengetahuinya.